Kemelut Palestina

Serangan Israel terhadap Jalur Gaza yang dikuasai Hamas telah menewaskan tiga ratus orang lebih dan ratusan bahkan mungkin ribuan lainnya luka-luka. Serangan selama tiga hari berturut-turut ini telah meluluhlantakan sebagain Jalur Gaza, khususnya yang selama ini diduga sebagai markas kaum Hamas.

Beragam kecaman bermunculan dari berbagai belahan dunia, mulai dari sekadar pernyataan hingga tindakan turun ke jalan. Bahkan ada sebagian kalangan yang bertekad untuk menurunkan laskar jihadnya berperang melawan Israel di Palestina.

Saya bukanlah pendukung zionisme Israel, tapi bukan juga pendukung Hamas yang dalam berbagai kesempatmeran mengharamkan adanya negara Israel di bumi Palestina. Saya selalu berpikir bahwa kaum Palestina dan Israel, kaum Islam dan Yahudi (serta Nasrani) bisa hidup berdampingan di bumi yang melahirkan tiga agama besar dunia ini.

Kalau kita rajin membaca kisah-kisah humanistik di balik peperangan kaum Palestina dan Israel, sebenarnya, kita bisa menarik benang merah kalau perdamaian itu bisa dicapai. Masalahnya adalah apakah para pihak yang bertikai dan terlibat di dalam pertikaian itu, baik langsung maupun tidak langsung,  mau melakukannya atau tidak?

Sejarah telah membuktikan, kekerasan cenderung akan berbalas kekerasan. Adalah tidak adil ketika Israel melakukan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza, misalnya, kita ramai-ramai mengecamnya, tapi ketika kaum Hamas membombardir Israel dengan roket apakah kita mengecamnya, alih-alih menyebut mereka jihad? Sikap membela Hamas secara membabi-buta sudah bisa dipastikan tidak akan pernah bisa menyelesaikan konflik di Palestina. Bahkan kalau pun jutaan sukarelawan diterjunkan ke sana.

Menurut saya, dialog damai merupakan satu-satunya jalan. Dialog yang dilandasi keinginan untuk hidup berdampingan tanpa merasa bakal adanya ancaman terhadap eksistensi masing-masing. Gagasan Peta Jalur Damai yang digagas beberapa negara beberapa waktu lalu, sepertinya sudah saatnya untuk kembali masuk meja perundingan.

Tak dapat dipungkiri, peranan Amerika Serikat sangat besar untuk menyuksesPeta Jalur Damai ini. Tapi, jangan pula dilupakan, negara-negara Timur Tengah, sebenarnya, memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Bila semua negara Timur Tengah bersatu-padu menekan AS untuk menekan Israel, saya yakin, perdamaian di Palestina bakal bisa diwujudkan. Jadi pada akhirnya kembali ke negara-negara Islam itu sendiri, apakah mau  satu suara menekan AS atau lebih mementingkan keselamatan diri sendiri? ***

2 Responses

  1. Masalah persengketaan tanah antara warga Muslim & Yahudi di Pelestin bermula pada saat Daulah Khilafah Usmaniyah di Turki mengalami kehancuran akibat propaganda kafir Barat.
    Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Teodhore Hertz dkk yang menghasut warga Yahudi agar menguasai tanah Palestin.
    Cara paling efektif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah mengembalikan hak pengelolaan tanah tersebut kepada pemilik terakhir yang sah, yaitu Daulah Khilafah.
    Tanah Palestin adalah tanah wakaf yang diserahkan secara ikhlas dari pemilik sebelumnya kepada Khalifah Umar ra. & kemudian dibebaskan kembali dari tangan penjajah oleh Khalifah Muhammad al Fatih.
    Bisa saja saudara Muslim kita di Pelestin lari & mengungsi ke negara lain agar selamat, namun hal itu tidak mereka lakukan, karena mereka telah bersumpah untuk merelakan jiwa mereka guna melindungi tanah wakaf milik Daulah Khilafah, hingga Daulah Khilafah bangkit kembali.
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, relakah kalian berlama-lama membiarkan penderitaan saudara muslim kita di Palestin terus berlarut-larut?
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, marilah kita tegakkan Khilafah sekarang juga!
    Agar Saudara kita, baik umat Muslim maupun Yahudi, dapat kembali berdamai seperti sedia kala!
    Agar berbagai masalah yang melanda kita saat ini dapat teratasi!
    Dan yang terpenting, agar hukum Allah dapat ditegakkan kembali di muka bumi ini!

Leave a Reply