Twilight

Ada dua kemungkinan bila novel diangkat ke layar lebar: film akan lebih baik dari novelnya atau sebaliknya. Sayangnya, dalam banyak kesempatan, yang terjadi adalah kemungkinan yang terakhir. Ini pulalah yang saya alami ketika menonton Twilight di Premiere Studio kemarin. Film ini jauh dari harapan saya. Di antara semua tokohnya, menurut saya, hanya Bella yang pas. Selebihnya terasa asing. Bahkan sampai diperlukan make up yang berlebihan untuk membuat wajah mereka memutih, yang sayangnya, bisa keliatan jelas, bagian tubuh yang lain beda warna.

Lihat pula misalnya tokoh Edward Cullen, yang tampangnya lebih terlihat sebagai gay daripada cowok macho yang bisa memikat hati perempuan. Seorang teman saya hanya merasa takjub dengan mata emasnya. Selebihnya, dia sepaham dengan saya, kalau si Edward itu tampangnya keliatan gay banget.

Catatan lain adalah soal special effect yang sangat standar untuk ukuran Hollywood. Saya jadi teringat kegagalan Ang Lee ketika membesut Hulk. Lompatan dan lari kencang para vampir itu tampak sangat kartun. Masih terasa jauh lebih ketika menonton film-film kolosal produksi Hong Kong.

Satu hal yang menarik minat saya untuk menuntaskan novel Twilight dan lanjutannya adalah cita rasa bahasanya yang memikat, percakapan batin Bella yang mampu mengaduk-aduk perasaan. “Feel” inilah yang tidak bisa saya dapatkan ketika menonton filmnya. Tidak terlihat adanya gejolak dan sarkasme seperti terbaca dalam novelnya.

Dua orang teman perempuan yang menonton bareng saya mengatakan film ini bagus dan malah kalo harus menonton lagi, mereka mau saja. Ya, bila Anda belum menonton novelnya, mungkin film ini bagus adanya, tapi rasanya tidak bila Anda seperti saya, yang keburu sudah kepincut dengan versi novelnya. ***

Leave a Reply