Dimsum Terakhir dari Clara Ng

Lebih dari sebulan yang lalu, saya kebetulan ke Pacific Place. Pengin merasakan menonton di Blitz Megaplex yang ada di sana. Usai nonton, saya ingin membeli buku, kebetulan persediaan bacaan saya sudah habis. Tanya punya tanya, ternyata ada toko buku Aksara di Lantai 4 yang baru buka.

Sampai di Lantai 4 saya cukup takjub juga ketika melihat interior Aksara yang satu ini. Sungguh berbeda dengan tiga toko yang lain, Kemang, Plaza Indonesia dan Citos. Bagi saya, yang di PP lebih berasa hangat dan ngerumah (homey). Dengan hati bungah saya pun menjelajahi setiap incinya.

Puas menjelajah, saya kembali ke niat awal untuk membeli buku. Setelah timbang sana-timbang sini, saya memutuskan untuk membeli novel Dimsum Terakhir karangan Clara Ng. Apa pasal? Karena sepertinya novel ini laris manis, sebab disebut-sebut di sampul muka novel Clara Ng yang lain. Belum lagi di rak berjajar empat novelnya sekaligus.

Selain itu, di sampul belakang, novel ini juga dipuja-puji karena keberaniannya mengangkat budaya Tionghoa dengan segala kompleksitasnya. Hmm, boleh juga nih, pikir saya.

Tapi, apa yang terjadi, saudara-saudara? Setelah memaksakan diri membaca novel ini hingga hampir setengah dari jumlah total halaman, saya memutuskan untuk berhenti. Saya sama sekali tidak mendapatkan kenikmatan, tapi malah kesal sendiri membacanya: alur cerita yang datar, pilihan kata dan pengungkapan yang seadanya, kalimat-kalimat langsung yang terlalu banyak, kurangnya pendalaman cerita dan lain sebagainya merupakan beberapa di antaranya.

Hingga kini Dimsum Terakhir tergeletak begitu saja di meja ruang tengah rumah saya. Istri saya, yang biasanya suka membaca novel seperti saya pun, sepertinya enggan menyentuhnya. Padahal novel ini berkaitan dengan etnisnya. Ia malah memilih untuk membaca Empress Orchid, karya Anchee Min, yang saya beli belakangan dan sudah selesai saya baca. Saya sudah berniat akan memberikan Dimsum Terakhir ini kepada orang lain. Tapi, saya belum menemukan orang yang tepat.

Oh, iya, saking kesalnya membaca novel ini, saya menyempatkan diri menelpon teman di Aksara, menyampaikan keluhan, kog bisa-bisanya sih Aksara menjual buku seperti itu? Teman saya itu hanya tertawa menjawabnya.

Dimsum Terakhir bisa jadi akan menjadi novel pertama dan terakhir karya Clara Ng yang saya baca. Dimsum Terakhir, hingga kini, seingat saya, juga satu-satunya novel yang tidak tuntas saya baca. Mungkin saya memang bukan sasaran pembaca dia. ***

Leave a Reply