The Name Of The Rose

Sudah lama saya ingin membeli buku ini, tapi entah kenapa selalu saja tertunda. Dalam berbagai kesempatan, mata saya malah lebih tertarik kepada buku-buku lain dan akhirnya ke kasir tanpa buku karangan Umberto Eco ini. Sampai pada akhirnya, ketika jalan-jalan dengan seorang teman, saya membelinya. Itu pun karena kebetulan tidak ada buku lain di Kinokuniya kala itu yang menarik perhatian saya.

Sebelum membaca novel ini, saya belum tahu persis kandungan isinya. Saya hanya tahu, The Name of The Rose merupakan novel laris yang melambungkan nama Umberto sebagai seorang novelis sekaligus pemikir semiotik.

Lumayan terkejut juga ketika membaca kata pengantar novel terjemahan ini. O… ternyata The Name of The Rose mengangkat tema kehidupan gereja di abad 14, yang disebut-sebut sebagai Abad Kegelapan Gereja. Sungguh jauh dari bayangan saya. Belum lagi, ketika saya sudah diwanti-wanti bahwa novel ini cukup banyak mengutip isi Alkitab di sana-sini.

Tidak banyak novel yang bisa saya sebut kategori kelas berat. In The Name of The Rose merupakan salah satunya. Butuh energi untuk memahami novel ini, khususnya logika berpikir yang dipakai oleh Umberto untuk menelaah suatu masalah. Kepakarannya sebagai ahli semiotik benar-benar dia curahkan di sini. Belum lagi perbincangan seputar “aliran-aliran kepercayaan” dalam Gereja kala itu, yang sebagian besar dicap bidaah. Mana yang bidaah, mana yang tidak menjadi terasa kabur.

Terlepas dari semua perdebatan para tokoh agama tersebut, satu hal yang menjadi inti pesan novel ini, menurut saya, adalah bahwa kesalehan hidup, keinginan untuk menegakkan kebenaran, kerap kali menyeret orang untuk melakukan tindakan-tindakan terkutuk.

Bagi saya, walaupun membaca novel ini cukup melelahkan—salah satu novel yang membuat saya butuh waktu hingga seminggu untuk membacanya—tapi setidaknya, The Name of The Rose membuat saya kembali berilmiah-ria dengan semiotika. Sesuatu yang telah begitu lama menjadi barang mahal bagi saya.***

2 Responses

  1. Saya pun berharap bisa segera membaca buku ini, sudah lama dipajang di toko buku, juga disetiap pameran pameran buku……tapi belum juga menarik perhatian saya.

    Terimakasih…..
    Blog ini banyak memberi saya inspirasi.

    …pada saat ini idealisme menjadi barang yang langka bagi generasi muda……

    Bang Daniel…….teruslah berkarya lewat tulisan tulisannya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    visit my blog at…….. rizanovriani.multiply.com

  2. Ini buku bagus mas ….
    Aku beli Versi bahasa Inggrisnya … Walah bingung abis …
    Waktu itu pernah liat yang terjemahan Indonesia. Dan ada catatan kaki nya. Biar orang awam bisa ikuti.
    Sayang sepertinya gak terbit lagi.

    Rencana ku mau baca buku terjemahan dulu, baru versi inggrisnya.

    Saya Review Davinci Code Mas:
    http://grandeicecaramelmachiato.blogspot.com/2008/11/pange-lingua-gloriosi.html

Leave a Reply