Sarang Kuntilanak: Film Horor yang Asyik Ditonton

Bila Anda sedang mendambakan film horor asli Indonesia yang asyik untuk ditonton, Sarang Kuntilanak, bisa menjadi jawabannya. Film ini hadir dengan alur cerita yang relatif padat, walaupun masih terasa ada bolong di sana-sini, dan pengadegan serta sinematografi yang enak dipandang mata. Anda juga bolehlah untuk berteriak ketakutan ketika mendapatkan kejutan tak terduga di dalamnya, seperti seharusnya film horor yang baik.

Kisahnya sendiri sebenarnya sangat sederhana. Ini mengenai empat orang mahasiswa yang ingin membuat film dokumenter sebagai tugas kuliah dengan mengambil tempat sebuah dusun terasing nan misterius bernama Dusun Kalimati. Dusun yang kabarnya seluruh penduduknya tewas secara mengenaskan sekitar dua puluh tahun yang lalu, tanpa diketahui penyebab sesungguhnya.

Kenekatan keempat mahasiwa tersebut, Norman, Martha, Vero dan Willy harus ditebus mahal. Baru saja memasuki dusun mereka sudah diteror oleh suara-suara yang mampu mendirikan bulu kuduk. Teror terus berlanjut hingga malam menjelang. Sampai pada akhirnya mereka memilih untuk pulang keesokan harinya.

Tanpa disangka, Martha, yang tadinya mereka sangka masih hidup, dan pulang bersama mereka, ternyata adalah arwahnya. Dari Vivian, dosen mereka, yang dulu pernah melakukan penelitian tentang dusun tersebut, mereka akhirnya tahu kalau para kuntilanak yang ada di sana bisa berwujud jadi apa saja.

Benar saja, satu per satu mereka bertiga diteror. Konon, kata Vivian, itu karena mereka harus mengembalikan benda yang pernah mereka ambil dari sana. Norman dan Vero pun akhirnya kembali ke dusun tersebut, berharap mereka berdua bakal selamat.

Film yang disutradarai oleh Ian Jacobs ini tidak mengusung bintang terkenal di dalamnya. Mungkin hanya Renny Umary, yang pernah bermain dalam film The Soul (2003), Ada Hantu di Sekolah (2004), Hantu Bangku Kosong (2006) dan Lewat Tengah Malam (2007), yang sudah dikenal para pecinta film horor tanah air.

Walaupun begitu, kualitas akting para pemainnya seperti Zidni Adam Zawas dan Ayu Andhika setidaknya bisa menghidupkan karakter yang mereka perankan. Walaupun tidak ada juga yang bermain outstanding.

Film berdurasi 90 menit cukup bisa menyita perhatian. Mata bisa terus melotot ke layar tanpa terasa. Sepanjang menonton film, hanya di satu adegan saya sempat terhenyak dan berkata dalam hati, “Duh, nggak penting, deh!”. Bagi saya itu merupakan “adegan colongan” yang tanpanya pun, cerita film tidak terganggu sama sekali.

Keseriusan dalam menggarap film ini juga terlihat dalam sinematografinya yang relatif mampu memanjakan mata, baik ketika dalam “suasana normal” maupun ketika adegan horor dimunculkan.

Kalau benar Ian Jacobs sebenarnya merupakan nama lain dari Nayato, bisa dikata ini merupakan salah satu film horor terbaik yang pernah dia buat.***

Leave a Reply