Kekurangliaran Rudy Soedjarwo

Usai menonton film Liar, mata saya tiba-tiba tertambat pada banner besar di sebelah lift Blok M 21. Banner besar tersebut memuat promosi film terbaru Rudy bertajuk Sebelah Mata, yang bakal diputar di bulan Agustus. Lagi-lagi Rudy menegaskan kredonya kalau film itu merupakan media komunikasi yang craftmanship sifatnya. Ini semakin mengidentikkan ia sebagai pabrik film nan produktif.

Saya tidak ingin membahas sejauh mana pabrik film ini beroperasi. Ini merupakan hal lain yang menarik untuk dibahas. Ini kali, lebih baik kita ngomong-ngomong tentang Liar saja dulu. Seperti halnya In The Name of Love, film ini sepertinya tidak akan meraup sukses komersial. Indikator sederhana, kemarin ketika saya menonton di Blok M 21, Liar hanya diputar dua kali hari itu dan ketika saya menonton, hanya ada saya dan beberapa orang lainnya. Tidak lebih dari sepuluh orang. Kontras dengan Anda Puas, Saya Loyo yang diputar di bioskop yang sama.

Padahal, kehadiran Liar, seperti film-film Rudy yang lain, mengundang resensi di berbagai media, baik nasional maupun lokal, baik elektronik maupun cetak, baik yang cenderung positif maupun negatif. Tapi, mengapa liputan luas tersebut kurang bisa menarik animo masyarakat?

Dalam hitung-hitungan di atas kertas, film ini seharusnya ditonton banyak orang. Bukankah trek-trekan merupakan fenomena umum di tengah masyarakat? Dengan mengandalkan komunitas ini saja, baik pelaku dan penontonnya, seharusnya setidaknya setengah juta penonton bisa diraup Liar.

Ada satu cacat mendasar dari Liar di mata saya, yaitu ketidakmampuan Rudy sebagai penulis cerita, DOP dan sutradara menggambarkan keliaran trek-trekan dan keindahan menonton adu balap di sirkuit. Rudy terlalu terfokus kepada konflik para tokohnya.

Awalnya saya berpikir pilihan Rudy untuk menceritakan trek-trekan di malam hari menjadi kendala tersendiri untuk menggambarkan keliaran tersebut. Tapi hipotesis tersebut gugur dengan sendiri nya ketika adu lomba di sirkuit pun digambarkan datar-datar saja. Bahkan dengan penonjolan gambar close up yang tidak pada tempatnya. Dibandingkan dengan Fast and Furious dalam berbagai segi, Liar menjadi terkesan hambar.

Bangunan cerita yang coba digelontorkan Rudy pun terasa terlalu longgar kalau tidak mau dikatakan kedodoran. Kisah kasih Indra dan Monique, misalnya, tidak ada hubungan yang signifikan dalam menentukan kehidupan Indra, hanya terlihat sekadar tempelen untuk dramatisasi.

Menarik untuk menunggu apakah Rudy bisa lebih baik di film berikutnya, Sebelah Mata. Bila tidak, sudah saatnya putra mantan Kapolri ini untuk lebih konsentrasi menjadi sutradara daripada ikut berkutat dalam skenario dan DOP. ***

Leave a Reply