Bapakku Bukan Koruptor!

Kian maraknya pengungkapan korupsi yang dilakukan aparat negara membuat saya teringat kepada almarhum ayah saya. Kebanggaan saya terhadap ayah kian menguar kini. Dengan dada membusung saya bisa berteriak: “Bapakku Bukan Koruptor!”. Bayangkan, berapa gelintir anak jaman sekarang, yang orang tuanya menjadi aparat negara berani berterika seperti itu.

Ayahku memang bukan pembesar. Ia hanya pegawai rendahan di perkebunan teh nun jauh di Sumatera Utara sana. Bahkan ia merintis karirnya dari bawah sekali, dari seorang pemanggul beras di gudang beras perkebunan. Maklum, ayahku hanya seorang tamatan SMP. Tapi, sikap ayah yang luwes dan jujur, perlahan membuat karirnya menanjak hingga akhirnya dia naik pangkat menjadi pegawai Kantor Besar.

Saya tidak tahu pasti apa jabatan ayah sana di sana. Yang saya tahu, dia merupakan orang kepercayaan orang kedua paling berkuasa di perkebunan tersebut dan bertanggung jawab langsung terhadap penggajian salah satu afdeling di sana.

Bila tiba saatnya akan gajian, hari-hari panjang ayah pun akan dimulai. Ia akan selalu membawa pulang pekerjaannya ke rumah dan bekerja hingga larut malam, lengkap dengan mesin hitung engkol dan buku besarnya yang panjangnya lebih dari satu meter dan tebal sekitar lima sentimeter. Dalam berbagai kesempatan, saya melihat ayah harus mengulang hitungannya karena adanya selisih satu-dua rupiah dalam perhitungan akhirnya.

Sekali waktu saya pernah bertanya, kenapa tidak digenapin langsung saja? Ayah dengan bijak menjawab bahwa itu merupakan uang orang lain, jadi harus benar jumlahnya. Kejujuran ayah saya, yang sampai membuatnya selalu kerja hingga larut malam, harus ditebus mahal. Ia mhemutuskan mengundurkan diri setelah genap mengabdi dua puluh lima tahun alias pensiun dini, karena ada masalah dengan penglihatannya. Padahal, seharusnya ia masih menyisakan enam tahun waktu normal sebelum pensiun.

Saking percayanya, atasan ayah sampai meminta ayah menunjuk sendiri penggantinya. Ayah pun akhirnya memilih seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan dengan kami. Untuk itu, ia harus rela enam bulan mengajari kerabat tersebut.

Jabatan yang diraih ayah, yang hanya lulusan SMP, sekali waktu pernah membuat salah seorang sejawatnya cemburu dan meneluh ayah. Untunglah, teluh tersebut bisa disembuhkan. Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa ternyata salah satu pekerjaan yang dibebankan atasannya kepada ayah adalah melakukan tender pengadaan barang. Sebuah jabatan basah, yang tidak pernah sekalipun disalahgunakannya.

Lagi-lagi kejujuran ayah ini membuat ia dihormati para Cina Kota yang pernah ikut tender di perkebunan kami. Ia selalu disambut dengan tangan terbuka ketika karena alasan tertentu mendatangi toko yang bersangkutan. Misal saja ketika harus membeli timbangan baru atau mencuci cetak foto.

Hingga akhirnya kami pindah ke kota, kami tidak sekali pun mendengar suara-suara sumbang tentang ayah. Semua orang tahu, perbaikan ekonomi keluarga kami lebih kepada keuletin ibu saya dalam berdagang sejak dini, dari sekadar pedagang klontong rumahan hingga akhirnya bisa menjadi grosir pakaian jadi di kota.

Karena itulah, ketika kemudian ayah dituduh korupsi ketika membantu akuntansi salah seorang saudara kami, kami sekeluarga sakit hati dibuatnya. Selain karena ketidakadaan bukti, tuduhan itu benar-benar menyakitkan karena dilakukan saudara sendiri.

Kelak di kemudian hari, ketika ayah telah meninggal, saudara tersebut dengan tersedu-sedu mengaku di hadapan saya sendiri kalau tuduhan korupsi itu mengada-ada. Alasan sebenarnya adalah karena ayah saya, tanpa permisi, memberikan resep pupuk organiknya kepada abang saya –resep yang tidak dipakai abang saya sama sekali. Mungkin, ia memilih saya sebagai tempat mengaku karena saya dikenal orang yang paling dekat dengan ayah.

Pengakuan yang terlambat. Hingga hari ini, salah seorang kakak saya malah tidak pernah mau berbicara dengannya, walaupun ia telah mengaku bersalah.

Begitulah saya mengenang ayah sebagai sosok yang jujur dan lurus, jauh dari gambaran seorang koruptor. Mungkin kelemahannya yang paling kentara adalah ayah saya suka minum-minuman keras, khususnya tuak, sebagaimana orang Batak pada umumnya. Bila semasa hidup Ibu, ayah masih bisa menahan hobi minumnya, sepeninggal Ibu, ia menjadi seorang pemabuk berat. Ayah seakan-akan kehilangan arah hidup sepeninggal ibu.

Saya terkadang menyesal tidak sempat membahagiakan ayah. Saya terlalu asyik dengan kehidupan di kota besar. Padahal, saya punya impian, ayah bakal tinggal bersama saya dan keluarga di hari tuanya dan kita akan berbagi banyak cerita.

Tapi, penyesalan tetaplah tinggal penyesalan. Yang pasti saya tetap bangga pernah memiliki seorang ayah yang teguh memegang prinsip. Keteguhan yang bisa membuat saya bisa membusungkan dada dan berkata: “Bapakku tidak pernah korupsi!” ***

Leave a Reply