Demonstrasi mahasiswa dalam rangka menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah menyeret kaum intelektual kita ke arah anarkisme. Tidak hanya di ibukota tindakan anarkis ini terjadi, tapi merembet juga hingga ke Indonesia Timur, khususnya Makassar.
Mengapa anarki menjadi pilihan? Karena tindakan anarki lebih gampang untuk menarik perhatian. Lihat saja, betapa televisi beramai-ramai meliputi aksi bakar-bakaran mahasiswa dan tindakan lembar batu antara mahasiswa dan aparat. Tidak hanya dalam selintas berita, bahkan dijadikan laporan investigasi.
Atas nama memperjuangan rakyat, para kaum anarki ini sering kali lupa bahwa tindakan anarki mereka malah sebaliknya menyengsarakan rakyat. Lihat saja pemblokiran jalan di Cawang yang dilakukan para mahasiswa UKI. Para sopir angkot harus kurang setoran karena waktunya habis di tengah kemacetan. Belum lagi bensin yang habis percuma. Atau lihat pula tindakan mereka yang merusak kenderaan yang lewat. Apa salah mereka?
Saya jadi teringat ketika mahasiswa dulu. Sebagai aktivis kampus, saya selalu menentang aksi kekerasan. Kalaupun aparat mendesak mundur ketika demonstrasi, jangan pernah melawan. Kekerasan tidak pernah menang melawan kekerasan. Saya lebih percaya pada dialog. Dan dalam berbagai kesempatan, terbukti dialog lebih berhasil daripada tindakan anarki.
Terus terang, saya bukan pentolan ketika jadi aktivis kampus dulu. Saya hanya sekrup yang ingin memberi sumbangan tenaga dan pemikiran. Posisi tersebut membuat saya bisa menjaga jarak dari gelombang aktivisme yang menghalalkan segala cara. Posisi ini pula yang membuat saya memilih keluar dan menjadi penggembira.
Ketika sekarang saya disodori kembali dengan anarkisme mahasiswa, saya jadi merenung. Ternyata, setelah puluhan tahun, tidak ada yang berubah dengan perilaku aktivis-demonstran kampus. Kekerasan tetap dihalalkan.
Apakah mereka tidak pernah bercermin kepada gelombang demonstrasi yang menumbangkan rejim Orde Baru? Orde Baru tumbang ketika demonstrasi damai menyeruak di berbagai belahan bumi Nusantara dan sisi lain aparat keamanan terpancing untuk melakukan tindak kekerasan. Saya yakin, kalau saat itu kekerasan dilawan dengan kekerasan, dan terus mengeras, simpati masyarakat tidak akan datang dan negara akan menjadi pemenang. Orde Baru tidak akan pernah tumbang. Karena bagaimana pun, ketika mahasiswa telah dianggap musuh bersama, para elit politik cenderung akan bersatu dan masyarakat akan menjauh.
Sejauh ini, saya belum pernah membaca dan mendengar adanya solusi alternatif dari mahasiswa selain penolakan kenaikan BBM. Padahal, seharusnya, dalam setiap aksi, sudah seharusnya para demonstran juga menyuarakan solusi alternatif sebagai pengejawantahan diri mereka sebagai kaum intelektual. Jangan-jangan karena tidak punya solusi, makanya anarki menjadi pilihan. Yang penting, lawan!***
Filed under: Metropolitan, Sosial-Budaya | Tagged: anarki, anarkisme, bahan bakar minyak, bbm, demonstrasi mahasiswa