Belum habis ingatan kita tentang ribut-ribut goyang ngebor Inul Daratista dengan Rhoma Irama, yang berbuntut Inul sempat dicekal di beberapa tempat, kini peristiwa yang hampir sama mengemuka lagi. Kali ini, yang menjadi korban bukan Inul, tapi Dewi Persik. Dewi, yang terkenal dengan goyang gergajinya menuai demonstrasi di berbagai tempat. Ia dicekal untuk manggung. Alasannya apalagi kalau bukan goyangan Dewi yang dipersepsi berbau pornografi.
Mengapa saya menyebut “dipersepsi” karena bagi sebagian kalangan goyang gergaji tersebut sarat muatan pornografi, karena bisa memancing birahi. Sementara bagi kalangan yang lain menilai goyangan tersebut merupakan bagian dari cara berekspresi. Saya, dan Dewi Persik, tentunya, berada di pihak yang terakhir ini.
Saya bukan penggemar Dewi, tapi saya telah beberapa kali melihat aksi panggungnya, walaupun sekadar di layar televisi. Terus terang, saya salut dengan kelenturan tubuhnya. Olah tubuh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tembang-tembang yan dibawakannya. Saya bisa merasakan kalau Dewi selalu mempersiapkan koreografinya setiap kali ingin manggung. Dia bukanlah artis dangdut amatiran, yang hanya goyang kiri-kanan-atas-bawah.
Ia tentunya sadar pilihan untuk tetap bergoyang-gergaji-ria mengundang resiko tersendiri. Ia bahkan rela bercerai dari suaminya, Saiful Jamil, yang memintanya untuk “lebih santun” saat manggung. Ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri.
Ketika awal-awal menuai protes dari khalayak luas, Dewi mencoba bergeming. Ia keukeuh akan tetap tampil sebagaimana biasanya. Tapi, lama kelamaan, ia coba untuk “menyesuaikan diri”. Penampilan terakhirnya di salah satu stasiun televisi swasta di tanah air terlihat “santun”.
Apakah Dewi Persik akan begitu selamanya? Saya tidak yakin. “Kesantunan” merupakan aib bagi seorang Dewi. “Santun” seperti yang diinginkan orang, bukanlah santun-nya Dewi. Baginyan, ada kesantunan yang lain, yang seharusnya lebih diperhatikan oleh masyarakat, termasuk para birokrat daripada merecoki kesantunan di ranah dangdut.
Bagi saya, yang bukan penggemar berat dangdut, Dewi Persik dan koleganya harus tetap menjadi diri mereka, bukan hasil bentukan-memaksa dari masyarakat, terpilih penguasa tafsir kesantunan. Saya lebih suka melihat penampilan santun Dewi Persik yang terakhir sebagai cara untuk mundur satu langkah, agar bisa melangkah maju sepuluh langkah. Biar adem dulu. Setelah, Dewi harus kembali dengan “gergaji” yang lebih tajam untuk menggergaji relung-relung cinta para dangdut mania.
* * *
Belum usai kontroversi Dewi Persik dengan goyang gergajinya, eh, lagi-lagi dunia dangdut heboh dengan munculnya album perdana Julia Perez. Hah!? Julia Perez, si presenter televisi nan seksi-bohai itu mengeluarkan album? Saya belum tahu tuh kalau dia bisa nyanyi dangdut, wong biasanya suka dia di tempat dugem, kog!
Tapi, begitulah adanya. Jupe, begitu nama panggilannya, dengan pede tinggi mengeluarkan album baru, lengkap dengan terobosan baru juga. Dengan alasan untuk menyukseskan kampanye HIV/AIDS, Jupe memberikan bonus kondom di dalam album CD-nya.
Aksi Jupe ini kontan mengundang protes banyak kalangan. Bahkan Pemkot Balikpapan dan Pemda NTB telah melarang peredaran album tersebut di wilayah kekuasaan mereka. Selain karena kondom itu, mereka beralasan lirik lagu-lagu di album Kamasutra tersebut sarat bau pornografi, membolehkan hubungan seks sebelum menikah dan sebagainya.
Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta, bahkan ikut nimbrung kasih komentar. “Interpretasinya ya seks bebas itu. Kalau Jupe ingin menanggulangi AIDS itu baik. Tapi sepertinya niatnya tidak tulus, soalnya dari lirik lagu ada yang menceritakan hubungan dengan pacar. Kan kalau pacaran belum menikah, ini bisa diinterprestasikan masyarakat ia mendukung seks bebas,” ujar Meuthia seperti dikutip situs kapanlagi.com.
Bukan hanya Jupe yang kena semprot. Dewi Persik juga kebagian. “Kalau saya sendiri, belum pernah lihat Dewi Persik tampil di panggung, tapi menurut pembantu saya yang sudah melihat, itu menjijikkan. Nah, ini baru pendapat kelas masyarakat, bukan pada pengambil keputusan.”
Aksi protes masyarakat terhadap aksi panggung Dewi Persik dan album Jupe malah telah mengarah ke anarkhi. Mereka sampai membakar album kedua pedangdut tersebut.
Sekali lagi, saya bukan pecinta berat dangdut. Hanya satu dua lagu dangdut yang enak di telinga saya. Lagi pula, saya tidak bisa goyang dangdut. Tapi, bagi saya, tindakan pencekalan dan anarkhi terhadap kedua artis tersebut di atas, tidak bisa ditolerir sama sekali. Pemerintah seharusnya lebih peka dalam meneropong permasalahannya. Bukannya malah dengan cepat memvonis.
Terlepas dari tulus tidaknya niat Jupe dengan kondomnya itu, bagi saya, dia telah melakukan sesuatu yang kreatif dalam memasarkan albumnya. Kondom bukan sesuatu yang haram bukan? Beda misalnya, kalau Jupe menjual album dengan bonus dildo, misalnya. Tentunya ini tak ada kaitan dengan menanggulangi AIDS. Lagian, harga dildo lebih mahal daripada albumnya. Bisa jadi bahan pertanyaan kan, Jupe sebenarnya jual album dengan bonus dildo atau sebaliknya nih?
***
Filed under: Sosial-Budaya | Tagged: dewi persik, julia perez