Kalau melihat judul di atas, akan muncul kesan bahwa saya dan H. Ahmad Heryawan dan H. Dede Yusuf (Hade), Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih, saling kenal. Padahal saya sekali pun tidak pernah bertatap muka dengan salah satu dari mereka. Saya dan Hade adalah dua entitas yan terasing satu dengan yang lain. Saya tahu Dede Yusuf hanya karena dia seorang artis. Ahmad Heryawan? Siapa ya?
Saya sedikit lebih tahu Dandy Setiawan dan Agum Gumelar. Yang satu karena dia merupakan Gubernur Jawa Barat, yang terakhir karena dia memang termasuk tokoh ternama negeri ini.
Ketika saya membaca “janji-janji kampanye” mereka di media massa, saya tidak merasa ada sesuatu greget di sana. Penuh bau normatif, tanpa tolok ukur yang bisa diuji. Jadi, kenapa saya harus memilih mereka?
Ya, saya memang tidak ikut pilkada Jabar, walaupun secara administratif saya tingggal di wilayah Provinsi Jabar. Ada dua alasan kenapa saya tidak ikut pilkada. Pertama, saya memang tidak merasa ada “janji” yang bisa dipegang dari para kandidat. Kedua, saya memang sama sekali tidak memiliki kartu pemilih, walaupun tiap bulan saya selalu ditagih iuran rukun tetangga dan memiliki KTP Tambun, Bekasi, Jawa Barat.
Saya tentunya hanya satu dari jutaan warga Jabar yang tidak ikut pemilu. Simak data yang dikeluarkan KPU Jabar. Dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebesar 27,9 juta, hanya sekitar 18,7 juta orang yang ikut pemilu, itu pun delapan ratusan ribu suara tidak sah. Dengan kata lain, ada yang tidak menggunakan hak suaranya sebanyak 35,5 persen alias golput. Angka yang sungguh besar bukan?
Banyak pihak mengatakan kemenangan Hade merupakan sinyal kuat kalau rakyat sekarang ingin perubahan dan itu tidak mungkin bisa diakomodir oleh golongan tua yang diwakili oleh Dai dan Aman. Apa benar demikian? Coba simak, kalau suara Dai dan Aman digabung bukankah mereka lebih unggul sekitar 20% suara dibanding Hade? Bukankah ini pertanda bahwa sebenarnya sebagian besar rakyat Jabar masih lebih percaya kepada tokoh-tokoh tua?
Kalau kita coba melongok pilkada-pilkada lainnya akan terlihat jelas bahwa negeri ini membutuhkan tokoh-tokoh kharismatis yang benar-benar bisa memenangkan suara mayoritas rakyatnya. Bukan kemenangan karena tidak ada pilihan lain. ***
Filed under: Berpolitik | Tagged: hade, pilkada