“Jumlah pohon yang diberikan bumi kepada kita: 250.689.344.539.909. Jumlah yang diminta bumi dari setiap orang: 1 benih pohon saja.” Demikianlah tagline iklan layanan masyarakat satu halaman penuh di harian Kompas Selasa lalu (22/4).
Lebih lanjut iklan tersebut menambahkan: “Bersadarkan perkiraan WWF International, lebih dari 250 trilyun pohon sudah kita manfaatkan. Seandainyan 6 milyar penduduk dunia, masing-masing menanam 1 benih pohon saja, maka kerusakan bumi dan pemanasan global akibat ulah manusia dapat kita kurangi!”
Dan pada akhir body copy, sang pengiklan, grup Bakrie, mengajak kita untuk menanam pohon sekarang juga. “Mari jadikan Hari Bumi 22 April 2008 ini sebagai awal balas budi kita pada bumi tercinta. Tanam sekarang sebelum terlambat!”
Iklan tersebut begitu mencuri perhatian saya. Hanya bermain dengan angka, tanpa perlu gambar indah. Kecuali logo-logo perusahaan yang membiayai iklan tersebut tentunya.
Kalau kita berangkat dari pernyataan di atas, tentunya, bukan perkara susah untuk menyelamatkan bumi ini, bukan? Apalagi bila ini kita kaitkan dengan umat manusia yang tinggal di pedesaan. Rata-rata setiap orang mungkin telah menanam lebih dari satu pohon. Tapi, bagaimana dengan mereka yang hidup di perkotaan, ketika lahan sudah semakin sempit, bahkan orang harus tinggal di rumah bertingkat?
Rumah tempat saya tinggal sekarang termasuk perumahan kawasan pinggiran. Rata-rata rumah di sana memiliki pohon di depan rumahnya, kecuali mereka yang rumah menghadap di pinggir jalan raya. Tapi, coba kita cermati lebih jauh. Di depan rumah saya, ada tiga pohon lontar yang sedang tumbuh berkembang. Tetangga kiri-kanan saya hanya memiliki satu pohon besar. Persis di depan rumah saya memiliki dua pohon besar. Dari contoh kecil di atas saja kita bisa melihat bahwa keinginan untuk setiap orang menanam satu pohon sulit dilakukan. Betapa tidak, saya yang tinggal berempat, hanya bisa menanam tiga pohon. Tetangga saya, yang anggota keluarganya lebih dari empat orang, hanya menanam satu pohon. Padahal kalau kita melihat sepintas, perumahan tempat saya tinggal sudah menghijau, sejuk dipandang mata setiap harinya.
Kesimpulannya, bukan perkara mudah untuk setiap orang menanam satu pohon! Pada akhirnya, kita harus tetap mempertahankan agar kekayaan rimba-raya tidak dieksploitasi demi keuntungan sesaat. Apa yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekarang dengan memperkarakan para pembalak liar dan kaum pengusaha dan birokrat yang terlibat di dalamnya patut kita dukung penuh. Bila tindakan pembalakan liar merupakan tindakan berjamaah, kita juga harus memberikan “dukungan berjamaah” kepada KPK.
Pada tingkatan yang lebih personal, bila tidak bisa menanam satu pohon, satu orang, kenapa kita setidaknya menanam satu bunga untuk setiap orang. So, baik Anda tinggal di rumah berhalaman luas atau pun di rumah susun atau apartemen, Anda sebenarnya telah melakukan dua tindakan positif sekaligus. Pertama, Anda telah berpartisipasi mengurangi efek rumah kaca. Kedua, Anda telah memperindah rumah Anda sendiri dengan bunga-bunga tersebut. Hijuah selalu menyejukkan mata, bukan?
Filed under: Sosial-Budaya | Tagged: hari bumi, satu orang satu pohon