Sabtu kemarin, saya memutuskan untuk menonton film di bioskop. Rencana untuk meng-install ulang notebook teman menjadi berantakan karena software yang pindah tempat entah di mana. Sejak berangkat dari rumah, saya telah memutuskan akan menonton film sepanjang hari itu, di atas kertas saya bisa menonton tiga film berturut-turut.
Awalnya, saya ingin menonton In The Name of Love, besutan Rudy Soedjarwo. Berhubung film tersebut tidak diputar di Senayan City, saya memutuskan untuk menonton Fool’s Gold terlebih dahulu. Ada fenomena menarik ketika ngantri tiket. Orang lebih memilih untuk ikut antrian panjang daripada antrian pendek. Apa pasal? Ternyata mereka yang berada di antrian panjang adalah para pemegang kartu kredit BCA atau kartu kredit lain atau debit BCA, tapi sepertinya sebagian besar dari mereka adalah pemegang kartu kredit BCA. Maklum ternyata lagi ada beli 1 dapat 2 alias diskon 50% dari BCA. Saya sendiri berasa di antrian “cash only“. Selain karena saya tidak punya kartu kredit BCA, antriannya pendek dan saya sudah dikejar waktu, tidak lebih dari lima menit lagi film akan dimulai.
Ketika antrian saya tiba, saya langsung memesan tiket untuk dua film sekaligus. Selain Fool’s Gold, saya memesan Three Kingdoms untuk film berikutnya. “Mau langsung nonton lagi, Pak?” tanya si mbak penjaga karcis. “Yup!” sahut saya. Seorang perempuan yang kebetulan berada di samping melempar senyum lebar. “Wah, ini baru dua, belon tahu dia kalau nanti saya bakal menonton tiga film berturut-turut,” pikir saya dalam hati.
Saya terlambat sedikit masuk bioskop, karena harus mengantri lagi untuk beli popcorn dan green tea. Tapi, itu tidak mengubah pendapat saya sama sekali tentang film ini. Kisah tentang petualangan Finn (Matthew McCanaughey) dan mantan istrinya Tess (Kate Hudson) memburu hartu karun berupa mas kawin Ratu Spanyol abad ke-18 terasa menjemukan. Film ini gagal meramu petualangan-komedi-drama romantis menjadi satu cerita utuh yang menegangkan sekaligus menghibur, malah cenderung seperti fim petualangan-komikal dengan sosok-sosok para pemainnya yang digambarkan begitu dangkal. Humor-humor yang dilontarkan pun terasa biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan kurang cerdas.
* * *
Sangat beda ketika saya menonton Three Kingdoms. Film ini sejak awal telah menawarkan ketegangan demi ketegangan. Nama besar Andy Lau, Samo Hung dan Meggy Q memang menjadi jualan utama film ini. Dari segi cerita dan koreografi, menurut saya, film ini tidak menghadirkan sesuatu yang baru, sekadar keroyalan menghaburkan darah di sana-sini.
Saya sempat agak terkejut juga ketika melihat sosok orang-orang yang menonton bersama saya. Banyak di antaranya yang tampak telah berumur 60an tahun ke atas. Malah ada pula yang borongan membawa keluarga besar, dari kakek hingga cucu. Padahal jelas-jelas ini merupakan film dewasa bukan film keluarga. Saya bisa memaklumi bila para nenek dan kakek itu menonton film ini. Karena Three Kingdom memang diangkat dari kisah legenda Cina. Ada nostalgia historis di sana. Dan, sekali lagi, nama besar Andy Lau dan Samo Hung, bisa menjadi jaminan film ini.
Oh, iya, ngomong-ngomong tentang Samo Hung. Selain bertindak sebagai pengarah laga, ada satu hal yang menarik: untuk pertama kalinya, sepengetahuan saya, Samo Hung berperan antagonis. Di sini dia harus mengkhianati negaranya sendiri hanya karena iri dengan keberhasilan “adiknya” menjadi jenderal perang.
* * *
Usai menonton Three Kingdoms, saya pindah tempat ke Plaza Senayan. Impian untuk menonton In The Name of Love pudar sudah. Ketika saya cek via 2121 ternyata jam tayang terakhir sudah lewat. Saya hanya berharap bisa mendapatkan pilihan tontonan film yang lebih beragam dibanding Senayan City. Ada beberapa pilihan film, dan akhirnya pilihan jatuh kepada Chaos. Ada dua pertimbangan saya untuk menonton film ini, jadwal midnite-nya paling dekat, jam 11 kurang, dan keberadaan Jason Statham dan Wesley Snipes. Bagi saya, kedua aktor tersebut merupakan jaminan mutu film laga, terlebih sepengetahuan saya baru kali inilah mereka berdua berada dalam film yang sama.
Eh, ketika sekitar lima belas menit berlalu menonton film ini, saya baru benar-benar yakin bahwa saya telah pernah menonton Chaos sebelumnya. Ya, saya menontonnya beberapa bulan lalu di media cakram digital! Ini salah satu kelemahan saya. Saking banyaknya nonton film, terkadang bisa lupa apakah film bersangkutan sudah ditonton apa belum. Terlebih sekarang ketika film-film yang diputar di bioskop 21 terkadang telah didahului oleh peredaran cakram digitalnya.
Coba jalan-jalan ke Mal Ambasador, misalnya. Anda akan bertemu dengan DVD-nya Juno dan The Nanny Diaries, yang kalau Anda lihat di 21cineplex.com masih termasuk coming soon. Padahal kedua-duanya sudah termasuk kategori DVD original.
Sejujurnya, saya sedikit kecewa juga karena sudah pernah menonton filmnya. Untungnya, kekecewaan saya tersebut agak terobati ketika secara tak terduga, saya bertemu teman lama, yang ternyata oh, ternyata telah pacaran sama seorang presenter televisi.
***
Filed under: Film | Tagged: chaos, Fool's Gold, In The Name of Love, juno, the nanny diaries, three kingdom