Sekitar empat tahun terakhir, saya tidak pernah lagi melakukan pekerjaan jurnalistik dalam kapasitas sebagai wartawan. Bahkan media online yang saya miliki kini sedang “tidur panjang”. Saya terlalu disibukkan dengan urusan per-advertising-an yang telah saya rintis sejak empat tahun lalu. Belum lagi, proyek-proyek buat website.
Mungkin saya sedang dapat peruntungan ketika dua bulan lalu, seorang teman tiba-tiba menghubungi saya. Dia menawarkan untuk membuat portal film, mengembangkan situs film yang sudah ada sebelumnya. Sebuah tawaran yang tidak mungkin saya lewatnya. Sejak tiga tahun lalu, saya telah memiliki konsep situs film. Sayang, waktu itu, calon investornya kurang berani mengeluarkan dana operasional. Jadilah konsep itu mengendap di laptop saya. Sehingga, ketika teman tersebut memberikan penawaran, dalam tempo cepat memberikannya konsep portal film yang bakal kita garap.
Saya sadar sejak awal, portal film ini tidak akan bisa menampung seluruh idealisme saya tentang bagaimana seharusnya portal film. Tapi setidaknya sebagai langkah awal, sangat pantas untuk dikerjakan.
Sebulan terakhir, saya bersama tim sibuk mempersiapkan konten. Dan karena kita tim kecil, mau tidak mau saya harus terjun langsung di dalamnya, kembali melakoni kerja jurnalisme. Kemarin, misalnya, untuk pertama kalinya saya melakukan wawancara dengan nara sumber. Ditemani sejawat, saya melakukan wawancara dengan Salman Aristo, penulis sekenario kawakan yang sedang naik daun di dunia perfilman tanah air. Wawancara dilakukan di kawasan Coffee Bean Kemang dari mulai jam empat sore, berlangsung selama empat jam.
Karena ini merupakan wawancara eksklusif, saya coba mencari bahan sebanyak mungkin tentang Salman Aristo, agar saya tahu lebih banyak tentang dia, khususnya dalam penulisan skenario. Ya, walaupun dia merupakan adik kelas saya, saya tetap harus memposisikan diri bahwa saya kurang tahu tentang dia. Salman, biasa dipanggil Aris, yang saya kenal adalah mahasiswa jurnalistik yang suka motret-motret kalau lagi ada demonstrasi di kampus. Hanya itu.
Usai wawancaran selama dua jam, saya merasa bahwa kemampuan mewawancara saya telah tumpul. Saya harus banyak mengasah diri dan harus mempersiapkan materi lebih baik lagi untuk bisa menggali lebih dalam 5W + 1H sang narasumber.
Walaupun begitu, satu hal yang pasti, merupakan kenikmatan tersendir kembali melakukan kerja jurnalistik yang sesungguhnya.***
Filed under: Personal | Tagged: jurnalistik, portal fillm, salman aristo