Tentang Judul Film

Kemarin, saya menyempatkan diri menonton film Puber di Slipi Jaya. Karena setelah melihat jadwal tayang, tempat ini yang paling dekat dengan kantor. Saya tertarik menonton film ini karena orang-orang yan berada di baliknya, yaitu Jonggi dan Ronggur Sihombing, anak aktor kawakan Wahyu Sihombing.

Ketika saya selesai menonton film ini, saya menjadi bertanya, kog sepertinya Puber bukan judul yang pas? Bayangkan saja, sang tokoh utama Arletta digambarkan sudah berusia 17 tahun, usia yang sudah terlalu tua untuk seseorang yang mengalami masa puber. Jalinan ceritanya pun tidak menunjukkan kalau Arletta sedang mengalami masa puber. Tidak ada satu kata “puber” pun yang terdengar sepanjang film. Apakah ini sekadar trik dagang? Rasanya terlalu murahan. Apakah ini karena kekurangtahuan masalah usia pubertas? Rasanya kog merendahkan akal sehat para filmmakernya.

Masih berkaitan dengan judul film, ketika saya selesai nonton, saya coba melihat-lihat poster yang ada. Mata saya tertumbuk pada satu poster dengan judul besar: Basahhh. Nah, yang membuat saya kaget, di kredit titelnya bukannya Basahhh, tapi Wet Dream. Nah, loh, yang benar yang mana nih? Tadi siang, baru akhirnya saya dapat informasi kalau judul film tersebut seharusnya adalah Basahhh (Wet Dream).

Kedua peristiwa ini mengingatkan saya akan film Anda Puas, Saya Loyo. Film yang lagi laris manis ini juga terasa aneh. Setidaknya dalam dua kali kesempatan para pemainnya berkata: “Anda puas, saya lemas.” Tidak ada kata “loyo” di sana. Tapi kenapa kemudian “loyo” yang dipakai. Sekadar trik dagang? Boleh jadi dan masih lebih masuk akal. Walaupun tetap terasa kurang genah di hati.

Saya jadi berpikir, kalau untuk urusan judul film saja, kita masih nggak konsisten atau asal comot saja, yang penting menjual, bagaimana dengan hal-hal lain? Jangan-jangan benar kata seorang teman, kebanyakan pemain film kita memang suka aji mumpung.***

Q&A: Potret India Modern

Namanya sungguh unik: Ram Mohammad Thomas. Nama yang mewakili tiga nama agama: Hindu, Islam, Kristen. Asal muasal nama ini pun cukup unik, yaitu untuk meredam konflik antara tiga pemuka agama yang mempertanyakan asal-usul dirinya.

Ya, Ram lahir ke dunia, tanpa tahu siapa ayah dan ibunya. Ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sampai pada akhirnya, ketika ia bekerja sebagai pramusaji bar, Ram mendapat kesempatan untuk ikut kuis di televisi. Tanpa diduga ia memenangkan hadiah sebesar satu milyar rupee!

Bukannya hidupnya menjadi enak, ia malah harus merasakan dinginnya penjara dan bogem mentah apara keamaan. Ram dituduh bermain curang untuk memenangkan kuis tersebut. Apakah benar demikian?

Dari sinilah cerita bermula. Vikas Swarup, sang pengarang, membawa kita mengarungi kehidupan kaum marginal di kota-kota besar di India, mulai dari Delhi, Mumbai, Dharavi hingga Agra. Apa yan dia gambarkan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di negeri tercinta ini, Indonesia. Di mana, para kaum marginal selalu menjadi sapi perah dan kambing hitam yang paling hitam.

Vikas, seorang diplomat karir, menceritakannya dengan sangat memikat. Seperti film-film India pada umumnya, kita merasakan alur cerita yang terasa komikal. Ada sedu sedan yang segara akan berubah menjadi tawa. Ada heroisme konyol yang hanya bisa dijelaskan dengan kacamata anak kecil.

Vikas, seperti kebanyakan warga India lainnya, hidup dari bombardir film-film Bollywood. Ini sepertinya sedikit banyak mempengaruhi Vikas ketika menuliskan novelnya. Sangat terasa kalo penggalan-penggalan kisahnya sudah siap untuk difilmkan, sangat sinematik. Saya sendiri ketika membaca novel ini sudah langsung membayangkan akan bagaimana kelak bila Q & A difilmkan.

Satu hal yang patut dipuji dari Vikas adalah bagaimana ia menjadikan sebuah kuis televisi sebagai pintu gerbang untuk membuka tabir kehidupan masyarakat marginal India. Setiap jawaban dari pertanyaan kuis tersebut selalu mengandung kisah tersendiri, yang ada kaitannya dengan kisah kehidupan Ram. Karena itulah, Ram, yang berpendidikan rendah itu, bisa menjawabnya satu per satu hingga akhirnya ia meraih hadiah utama, satu milyar rupee.

Vikas juga tak ingin terjerumus dalam klise. Ram, yang pada akhirnya diputuskan berhak atas hadiah tersebut, dikisahkan tidak menjadi seorang yang tinggi hati. Malah ia tetap bersikukuh untuk memperistri gadis pujaannya, yang telah menjadi pelacur di ibukota.

Ya, Q & A bisa dikata merupakan salah satu novel terbaik India modern. Sarat dengan nilai-nilai kemanusian, tanpa dibubuhi prasangka-prasangka negatif baik tentang kaum marginal maupun kaum penguasa. Semua terlihat diletakkan pada proporsi yang sebagaimana adanya.

Ketika Kata Enggan Bertaut

Sebulan terakhir ini, beberapa kali saya mencoba untuk menuangkan isi hati dalam sebentuk puisi. Entah kenapa hingga detik ini, tak satu pun puisi yang bisa saya ciptakan. Semua terasa hambar. Padahal konon, suasana hati yang rungsing bisa menjadi salah satu pemicu lahirnya bahasa-bahasa puitis.

Setelah saya pikir-pikir kembali, ternyata telah belasan tahun saya tidak pernah menulis puisi. Terakhir, secarik puisi pernah tertulis ketika masa kuliah dulu. Itu pun saya sudah lupa bagaimana isinya dan kapan persisnya.

Padahal, kalau melihat rekam jejak perpuisian dalam hidup saya, dahulu kal ada masa ketika saya menjadi seorang puisi-is (penyair?) yang produktif. Saking produktif, kala duduk di bangku SMA dulu, saya sampai membutuhkan buku tulis tebal tersendiri untuk menampung letupan-letupan rasa yang menggelayut di benak saya.

Ada apa dengan diri saya yang sekarang? Mengapa kata seakan enggan bertaut untuk menyuarakan rasa? Apakah ini sebenarnya hanya merupakan bagian dari perjalanan spiritual penulisan saya saja? Atau memang ada yang salah dalam diri saya?

Lagi-lagi melongok ke masa lampau, ketika puisi tak lagi mendapat tempat sebagai corong rasa, ketika kuliah dulu, saya sempat menulis beberapa cerpen untuk menuangkan kerungsingan hati. Salah satu cerpen tersebut malah masih tersimpan kini.

Tapi, sekarang-sekarang, saya malah sudah malas untuk membaca cerpen di media massa. Saya lebih senang membaca tulisan-tulisan feature human interest atau kolom-kolom tulisan. Setiap Ahad, misalnya, saya selalu menyempatkan diri membaca kolom Samuel Mulia di Kompas daripada membaca cerpen. Atau menunggu sisipan Ruang Baca di Koran Tempo Minggu tiap bulan, daripada membaca cerpen atau puisi terbitan mereka.

Saya sekarang lebih senang membaca novel dan buku-buku non fiksi nan ringan, tapi bukan model chicklit atau self help tentunya.

Kembali ke masalah awal saya yang sulit untuk menuangkan rasa dalam sebait puisi. Ada apakah gerangan? Apakah memang untuk menjadi seorang puisi-is harus memenuhi situasi dan kondisi tertentu? Kalau begitu, ini menjadi pe-er tersendiri bagi saya untuk menilai situasi dan kondisi apa yang saya alami ketika SMA dulu.

Lebih dari itu, saya menjadi bertanya-tanya, bagaimana dengan para penyair yang dari muda hingga tua tetap bisa menulis puisi. Apakah mereka tetap dalam situasi dan kondisi seperti ketika mereka pertama kali menjadi penulis puisi? ***

Prabowo Subianto Jadi Presiden?

Akhirnya jelas sudah motivasi dibalik gencarnya iklan Prabowo Subianto yang mengatasnamakan kapasitasnya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk mencintai produk petani sendiri. Ternyata, mantan Panglima Komanda Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat ini punya ambisi menjadi orang nomor satu di negeri ini alias Presiden RI. Hal ini ditegaskannya dalam konfrensi pers yang diadakan kemarin (14/7) di Jakarta.

Langkah yang diambil Prabowo bisa dikata sudah benar secara politik. Setelah berusaha membersihkan diri dari kasus tudingan kudeta dan perseteruan dirinya dengan Jenderal Wiranto melalui keterangan langsung kepada media maupun penulisan buku, anak begawan ekonomi Sumitro ini kemudian merebut posisi strategis sebagai Ketua HKTI. Setelahnya, ia mendirikan partai politik sendiri bernama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang kini sudah mulai memperkenalkan diri kepada masyarakat melalui iklan di berbagai media, khususnya televisi.

Ya ng mejadi pertanyaan sekarang, sejauh mana dua kendaraan politik tersebut mampu membawa Prabowo ke tampuk kekuasaan? Bila maksud hati Prabowo adalah merebut hati para petani, apakah modal menjadi ketua cukup? Siswono Yudohusono, mantan ketua yang digantikan, terbukti telah gagal dalam Pemilu 2004. Apakah dengan menggembar-gemborkan untuk mencintai hasil pertanian negeri sendiri dapat memikat hati petani?

Sampai kini, saya belum pernah mengetahui Prabowo telah melakukan tindakan-tindakan nyata yang mampu mendongkrak kehidupan para petani. Tidak ada sebuah kebijakan yang dipelopori HKTI yang terlihat signifikan mengangkat harkat dan martabat petani, kecuali seruan semata. Prabowo mungkin harus belajar kepada Thaksin, mantan PM Thailand, bagaimana cara untuk dicintai kaum tani, bahkan ketika ia sudah terguling dari tampuk kekuasaannya.

Kedua, sejauh mana Prabowo bisa memakai Gerindra untuk mengusung dirinya menjadi calon Presiden RI? Berbagai survei yang dirilis media massa memperlihatkan kalau di antara partai-partai baru, hanya Partai Hanura pimpinan Wiranto yang dikenal masyarakat luas. Ini berarti, butuh tenaga ekstra keras dari Prabowo dan tim untuk menggerek popularitas Gerindra.

Selain itu, masih harus dipertanyakan pula kemampuan Prabowo dan tim untuk bisa menggandeng tokoh-tokoh populis yang nantinya bakal menjadi kandidat wakil rakyat yang akan disorongkan kepada rakyat. Bila Gerindra hanya mampu menjual calon yang pas-pasan, jangan harap rakyat bakal memilih mereka.

Hitung mundur Pemilu 2009 sudah dimulai. Apakah cukup waktu untuk Prabowo dan Gerindra untuk menyusun strategi dan mempersiapkan para personilnya? Menarik untuk ditunggu, bukan!? ***

Kekurangliaran Rudy Soedjarwo

Usai menonton film Liar, mata saya tiba-tiba tertambat pada banner besar di sebelah lift Blok M 21. Banner besar tersebut memuat promosi film terbaru Rudy bertajuk Sebelah Mata, yang bakal diputar di bulan Agustus. Lagi-lagi Rudy menegaskan kredonya kalau film itu merupakan media komunikasi yang craftmanship sifatnya. Ini semakin mengidentikkan ia sebagai pabrik film nan produktif.

Saya tidak ingin membahas sejauh mana pabrik film ini beroperasi. Ini merupakan hal lain yang menarik untuk dibahas. Ini kali, lebih baik kita ngomong-ngomong tentang Liar saja dulu. Seperti halnya In The Name of Love, film ini sepertinya tidak akan meraup sukses komersial. Indikator sederhana, kemarin ketika saya menonton di Blok M 21, Liar hanya diputar dua kali hari itu dan ketika saya menonton, hanya ada saya dan beberapa orang lainnya. Tidak lebih dari sepuluh orang. Kontras dengan Anda Puas, Saya Loyo yang diputar di bioskop yang sama.

Padahal, kehadiran Liar, seperti film-film Rudy yang lain, mengundang resensi di berbagai media, baik nasional maupun lokal, baik elektronik maupun cetak, baik yang cenderung positif maupun negatif. Tapi, mengapa liputan luas tersebut kurang bisa menarik animo masyarakat?

Dalam hitung-hitungan di atas kertas, film ini seharusnya ditonton banyak orang. Bukankah trek-trekan merupakan fenomena umum di tengah masyarakat? Dengan mengandalkan komunitas ini saja, baik pelaku dan penontonnya, seharusnya setidaknya setengah juta penonton bisa diraup Liar.

Ada satu cacat mendasar dari Liar di mata saya, yaitu ketidakmampuan Rudy sebagai penulis cerita, DOP dan sutradara menggambarkan keliaran trek-trekan dan keindahan menonton adu balap di sirkuit. Rudy terlalu terfokus kepada konflik para tokohnya.

Awalnya saya berpikir pilihan Rudy untuk menceritakan trek-trekan di malam hari menjadi kendala tersendiri untuk menggambarkan keliaran tersebut. Tapi hipotesis tersebut gugur dengan sendiri nya ketika adu lomba di sirkuit pun digambarkan datar-datar saja. Bahkan dengan penonjolan gambar close up yang tidak pada tempatnya. Dibandingkan dengan Fast and Furious dalam berbagai segi, Liar menjadi terkesan hambar.

Bangunan cerita yang coba digelontorkan Rudy pun terasa terlalu longgar kalau tidak mau dikatakan kedodoran. Kisah kasih Indra dan Monique, misalnya, tidak ada hubungan yang signifikan dalam menentukan kehidupan Indra, hanya terlihat sekadar tempelen untuk dramatisasi.

Menarik untuk menunggu apakah Rudy bisa lebih baik di film berikutnya, Sebelah Mata. Bila tidak, sudah saatnya putra mantan Kapolri ini untuk lebih konsentrasi menjadi sutradara daripada ikut berkutat dalam skenario dan DOP. ***

Anda Puas, Saya Loyo

Ada dua hal yang membuat saya ingin menonton film ini. Pertama, saya ingin melihat sejauh mana peruntungan KK Dheeraj di film ketiganya, setelah dua film sebelumnya flop di pasaran. Kedua, rasa penasaran saya atas sejauh mana Andy Soraya tampil sensual dalam film ini setelah munculnya kontroversi yang ditiupkan suaminya.

Saya menonton film ini tadi malam (14/7) di Blok M 21. Kalau melihat animo penonton, sepertinya Anda Puas, Saya Loyo, akan bisa mengobati kegagalan dua film KK Dheeraj sebelumnya. Bayangkan saja, tiket pertunjukan untuk jam 15.55 WIB telah habis terjual, sementara untuk jam 17.45 WIB sudah mulai penuh ketika saya memesan, dan ketika saya mengantri kembali untuk film Liar, tiket untuk 19.35 WIB telah habis terjual! Padahal, ini merupakan hari keenam film ini diputar.

Apa yang menarik minat orang untuk menonton film ini? Berdasarkan pengamatan saya, salah satu daya tariknya, tentunya adalah kontroversi penampilan Andy Soraya yang diapungkan media. Kedua, banyolan-banyolan segar yang dihadirkan para pelawak yang tampil di film ini, khususnya Komeng. Ketiga, adanya janji penampilan cewek-cewek Uzbekistan.

Selebihnya? Film ini tidak lebih dari sinetron lepas yang dilayarlebarkan. Bahkan pada titik tertentu, saya melihat tanpa penulis skenario pun film ini akan mengalir dengan sendirinya atas campur tangan Komeng dan kawan-kawan dalam membanyol.

Terus terang, walaupun film ini cukup berhasil memancing tawa, alur ceritanya yang meloncat-loncat bak sinetron itu beberapa kali memaksa saya harus menahan kantuk. Belum lagi logika ceritanya yang dibuat-buat dengan pembenaran yang dipaksakan pula.

Mungkin saat ini KK Dheeraj sedang menghela nafas lega. Namun, akan menjadi kelegaan sesaat bila di film berikutnya KK tetap hadir dengan kemampuannya yang pas-pasan.

Oh iya, ada satu hal yang mengganggu di benak saya, kenapa film ini diberi judul Anda Puas Saya Loyo, sementara dalam beberapa kesempatan para tokohnya lebih suka berkata “Anda puas, saya lemas”? ***

Bapakku Bukan Koruptor!

Kian maraknya pengungkapan korupsi yang dilakukan aparat negara membuat saya teringat kepada almarhum ayah saya. Kebanggaan saya terhadap ayah kian menguar kini. Dengan dada membusung saya bisa berteriak: “Bapakku Bukan Koruptor!”. Bayangkan, berapa gelintir anak jaman sekarang, yang orang tuanya menjadi aparat negara berani berterika seperti itu.

Ayahku memang bukan pembesar. Ia hanya pegawai rendahan di perkebunan teh nun jauh di Sumatera Utara sana. Bahkan ia merintis karirnya dari bawah sekali, dari seorang pemanggul beras di gudang beras perkebunan. Maklum, ayahku hanya seorang tamatan SMP. Tapi, sikap ayah yang luwes dan jujur, perlahan membuat karirnya menanjak hingga akhirnya dia naik pangkat menjadi pegawai Kantor Besar.

Saya tidak tahu pasti apa jabatan ayah sana di sana. Yang saya tahu, dia merupakan orang kepercayaan orang kedua paling berkuasa di perkebunan tersebut dan bertanggung jawab langsung terhadap penggajian salah satu afdeling di sana.

Bila tiba saatnya akan gajian, hari-hari panjang ayah pun akan dimulai. Ia akan selalu membawa pulang pekerjaannya ke rumah dan bekerja hingga larut malam, lengkap dengan mesin hitung engkol dan buku besarnya yang panjangnya lebih dari satu meter dan tebal sekitar lima sentimeter. Dalam berbagai kesempatan, saya melihat ayah harus mengulang hitungannya karena adanya selisih satu-dua rupiah dalam perhitungan akhirnya.

Sekali waktu saya pernah bertanya, kenapa tidak digenapin langsung saja? Ayah dengan bijak menjawab bahwa itu merupakan uang orang lain, jadi harus benar jumlahnya. Kejujuran ayah saya, yang sampai membuatnya selalu kerja hingga larut malam, harus ditebus mahal. Ia mhemutuskan mengundurkan diri setelah genap mengabdi dua puluh lima tahun alias pensiun dini, karena ada masalah dengan penglihatannya. Padahal, seharusnya ia masih menyisakan enam tahun waktu normal sebelum pensiun.

Saking percayanya, atasan ayah sampai meminta ayah menunjuk sendiri penggantinya. Ayah pun akhirnya memilih seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan dengan kami. Untuk itu, ia harus rela enam bulan mengajari kerabat tersebut.

Jabatan yang diraih ayah, yang hanya lulusan SMP, sekali waktu pernah membuat salah seorang sejawatnya cemburu dan meneluh ayah. Untunglah, teluh tersebut bisa disembuhkan. Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa ternyata salah satu pekerjaan yang dibebankan atasannya kepada ayah adalah melakukan tender pengadaan barang. Sebuah jabatan basah, yang tidak pernah sekalipun disalahgunakannya.

Lagi-lagi kejujuran ayah ini membuat ia dihormati para Cina Kota yang pernah ikut tender di perkebunan kami. Ia selalu disambut dengan tangan terbuka ketika karena alasan tertentu mendatangi toko yang bersangkutan. Misal saja ketika harus membeli timbangan baru atau mencuci cetak foto.

Hingga akhirnya kami pindah ke kota, kami tidak sekali pun mendengar suara-suara sumbang tentang ayah. Semua orang tahu, perbaikan ekonomi keluarga kami lebih kepada keuletin ibu saya dalam berdagang sejak dini, dari sekadar pedagang klontong rumahan hingga akhirnya bisa menjadi grosir pakaian jadi di kota.

Karena itulah, ketika kemudian ayah dituduh korupsi ketika membantu akuntansi salah seorang saudara kami, kami sekeluarga sakit hati dibuatnya. Selain karena ketidakadaan bukti, tuduhan itu benar-benar menyakitkan karena dilakukan saudara sendiri.

Kelak di kemudian hari, ketika ayah telah meninggal, saudara tersebut dengan tersedu-sedu mengaku di hadapan saya sendiri kalau tuduhan korupsi itu mengada-ada. Alasan sebenarnya adalah karena ayah saya, tanpa permisi, memberikan resep pupuk organiknya kepada abang saya –resep yang tidak dipakai abang saya sama sekali. Mungkin, ia memilih saya sebagai tempat mengaku karena saya dikenal orang yang paling dekat dengan ayah.

Pengakuan yang terlambat. Hingga hari ini, salah seorang kakak saya malah tidak pernah mau berbicara dengannya, walaupun ia telah mengaku bersalah.

Begitulah saya mengenang ayah sebagai sosok yang jujur dan lurus, jauh dari gambaran seorang koruptor. Mungkin kelemahannya yang paling kentara adalah ayah saya suka minum-minuman keras, khususnya tuak, sebagaimana orang Batak pada umumnya. Bila semasa hidup Ibu, ayah masih bisa menahan hobi minumnya, sepeninggal Ibu, ia menjadi seorang pemabuk berat. Ayah seakan-akan kehilangan arah hidup sepeninggal ibu.

Saya terkadang menyesal tidak sempat membahagiakan ayah. Saya terlalu asyik dengan kehidupan di kota besar. Padahal, saya punya impian, ayah bakal tinggal bersama saya dan keluarga di hari tuanya dan kita akan berbagi banyak cerita.

Tapi, penyesalan tetaplah tinggal penyesalan. Yang pasti saya tetap bangga pernah memiliki seorang ayah yang teguh memegang prinsip. Keteguhan yang bisa membuat saya bisa membusungkan dada dan berkata: “Bapakku tidak pernah korupsi!” ***

Perkenalan Awal ke Dunia Sinden

Membaca awal novel Sinden, saya langsung teringat dengan Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk-nya. Keduanya coba mengangkat kehidupan seniman tradisional, yang bagi sebagian kalangan dinilai rendah, karena diidentikkan dengan hal-hal berbau mesum.

Seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Sinden juga mengambil latar belakang sebuah desa miskin bernama Sumberwungu. Cerita juga dibalut dengan suasana politik era pertengahan enam puluhan ketika PKI sedang gencar-gencarnya menanamkan pengaruh di tengah masyarakat.

Persamaan lain, novel ini bisa membawa kita untuk memahami kehidupan desa, mulai dari apa yang mereka makan hingga bagaiman mereka bersosialisasi, lengkap dengan istilah-istilah bahasanya.

Tapi, tidak seperti Ahmad Tohari, yang bisa bertutur dengan lancar-menggoda, Purwadmadi Admadipurwa, sang pengarang Sinden, suka melakukan pengulangan yang tidak perlu atas suatu peristiwa atau tabiat seseorang.

Tadinya, ketika saya membaca sampul belakang novel ini, saya telah membayangkan akan mendapat gambaran yang komprehensif tentang perjalanan hidup seorang sinden. Ternyata, harapan saya Cuma impian. Penulis ternyata lebih banyak menyibukkan diri dengan pernak-pernik gerakan mobilisasi partai, daripada memaparkan kehidupan sinden.

Di bab-bab terakhir cerita, saya juga dibuat terkejut, ketika pengarang menceritakan kegiatan Nyai Estu, si sinden sepuh, melakukan suwuk, lengkap dengan ritualnya. Padahal di awal cerita telah ditekankan kalau Nyai Estu tidak mau melakukan hal tersebut. Karena ia lebih percaya dengan makanan sehat dan pengobatan modern. Tidak penjelasan sebaris pun dari pengarang, atas perubahan sikap ini.

Saya lebih terkejut lagi ketika membaca akhir cerita novel ini. “Waks, begitu aja, nih!?” Begitu gumaman saya. Sangat kental terasa, kalau prolog dalam novel ini, hanya sekadar tempelen untuk masuk ke inti cerita. Sebuah prolog yang hanya disingguh sekilas di epilog. Itu pun dengan kesimpulan, yang lagi-lagi membuat saya terhenyak.

Tetapi, terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, menurut saya, sang pengarang, telah berhasil mengantarkan kita untuk kembali ke suasana pedesaan Jawa dan mengenal kehidupan sinden, yang merupakan salah satu kekayaan budaya yang pantas untuk dilestarikan.

Saya hanya bisa berharapa, sang pengarang lebih banyak lagi melakukan kegiatan praksis, hingga kelak kita bisa mendapat seorang pengarang yang sepadan dengan Ahmad Tohari.***

Membaca Indonesia

Ahad kemarin, saya jalan-jalan ke Bekasi Trade Center (BTC). Niat awal adalah mau nonton film Indonesia, tentang judul, lihat saja ntar, film mana yang belum saya tonton. Maklum seminggu terakhir, saya jarang nonton film Indonesia, sementara di BTC, sekarang-sekarang ini, ketiga studionya selalu dijejali film Indonesia.  Setelah melihat jadwal tayang, saya akhirnya memutuskan menonton Sumpah Pocong di Sekolah.

Berhubung masih ada waktu sekitar setengah jam, saya melangkah ke toko buku Tisera yang ada di satu lantai di bawahnya. Kebetulan, saya telah kehabisan bahan bacaan. Awalnya saya ingin membeli Twilight, yang direkomendasikan banyak kalangan. Tapi tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu novel berjudul Sinden. Baca-abaca sampul belakang, saya memutuskan untuk membeli Sinden saja.

Eh, pas mau ke kasir, mata saya tertumbuk pada sebuah nama yang sangat familiar: Ayu Utami. Reflek, tangan saya menjangkau buku tebal yang namanya tercetak di sana. Bilangan Fu, itu judul novelnya, keluaran Kepustakaan Populer Gramedia. Dari berat bukunya saja, saya langsung memutuskan bakal membeli buku ini, buku tebal nan ringan, pasti pakai kertas impor yang bagus. Benar saja, ketika membaca halaman di dalam, kertas buku ini memang ramah lingkungan. Terlebih harganya relatif murah, Rp 60.000.

Setelah beberapa lama saya lebih sering membeli novel-novel Barat, mungkin memang kini sudah saatnya saya lebih mencintai novel-novel karangan pengarang Indonesia. Karena setidaknya, melalui novel-novel tersebut, saya bisa membaca kehidupan negeri ini, dulu dan sekarang.

Ambil contoh, Sinden. Saya baru membaca beberapa bab novel ini, tapi dari situ saja sudah terasa kentalnya nuansa ke-indonesia-an di sana. Pada titik tertentu, saya malah sudah mulai membandingkannya dengan Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari. Walaupun, dengan berat hati saya harus mengatakan Sinden masih jauh mutunya dibanding Ronggeng.

Sekitar tiga bulan lalu, saya membaca novel Pangeran Diponegoro karangan Remy Silado. Walaupun gaya tuturnya tidak beda dengan novel-novel sebelumnya, saya tetap menikmatinya. Terlebih Remy menghadirkan fakta-fakta sejarah, yang saya belum pernah tahu sebelumnya. Saya jadi berpikir, bila sejarah masa lampau negeri ini di-novel-kan, mungkin akan lebih banyak masyarakat kita yang mau peduli terhadap sejarah dan mengambil pelajaran dari sana. Sehingga, kita tidak salah ketika membaca Indonesia.***

Mati Ketawa a la Tiren

Ketika pertama kali melihat standing banner Tiren: Mati Kemarin di bioskop, ada satu pertanyaan yang langsung menggelayut dibenak gua: kenapa nama Dewi Perssik begitu ditonjolkan? Padahal dia bukan siapa-siapa di jagat perfilman nasional. Dewi baru satu kali tampil di layar lebar, Tali Pocong Perawan, itu pun dengan akting pas-pasan.

Bisa jadi pilihan ini karena nama besar Dewi di bisnis hiburan non-film yang menjadi pertimbangannya. “Engga apa-apa, kan memang (nama ) itu yang dijual,” sebut Emil G Hampp, sang sutradara, seperti dikutip situs Cinema21. Benarkah nama Dewi cukup bisa menjual? Setelah menonton Tiren, saya ragu dibuatnya.

Bagi saya, tanpa nama besar Dewi Perssik pun, film ini telah menjual dengan sendirinya. Tim kreatif dari Maxima Pictures telah menjalankan tugasnya dengan baik meramu unsur komedi, horor dan sedikit seks untuk meraup penonton. Beda halnya dengan Tali Pocong Perawan, yang menurut saya relatif gagal memadukan ketiga hal tersebut di atas. Mungkin KK Deraaj, yang membesut Skandal Cinta Babi Ngepet, bisa bercermin dari Tiren.

Sepanjang menonton film berdurasi sekitar 90 menit ini, penonton banyak disuguhi adegan-adegan dan dialog-dialog lucu nan cerdas yang mampu mengocok perut hingga terpingkal-pingkal. Adegan horornya sendiri malah jadi terpinggirkan. Tidak ada situasi mencekam yang mampu membuat bulu kuduk merinding. Tidak ada juga adegan seks yang vulgar, yang sekadar tempelan, atau mengumbar ciuman berlebihan seperti pada Tali Pocong Perawan.

Salah satu yang menyamakan Tiren dengan Tali Pocong Perawan adalah porsi Dewi Perssik untuk kembali mengumbar keseksian tubuh dan suaranya. Saya tidak melihat ada peningkatan kualitas akting di sana. Karena itulah, menurut saya, kalau Dewi ingin menancapkan kukunya di layar lebar, sudah saatnya ia mencari tantangan peran baru. Kalau tidak, ia akan tetap terjerumus dalam stigma bom sex. ***