Prabowo Subianto, Presiden RI 2014?

Kalau kita berkaca kepada hasil perhitungan cepat yang dilakukan lembaga-lembaga survei, pasangan SBY-Budiono sudah dapat dipastikan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2009-2014, hanya dalam satu putaran.
Dari dua kandidat capres-wapres yang tersisa, tampaknya tinggal Prabowo Subianto yang punya kesempatan untuk maju kembali ke pilpres lima tahun mendatang. Megawati Soekarno Putri, misalnya, sudah dua kali kalah dalam pilpres. Kalau Mega masih berambis untuk ketiga kalinya, sama saja muka tembok namanya. Hal yang sama juga berlaku untuk Wiranto, yang sudah dua kali ikut pilpres, baik sebagai capres maupun cawapres. Bagaimana dengan Kalla? Saudagar yang satu ini sudah terlalu sepuh untuk ikut pilpres lima tahun mendatang, sudah menginjak angka tujuh.
Secara kasat mata, peluang Prabowo cukup terbuka lebar. Dia memiliki sumber daya modal yang jauh dari cukup untuk membiayai ambisi politiknya, seperti sudah terlihat pada pemilu tahun ini. Sumber daya yang mampu mengkerek perolehan Partai Gerindra melebihi angka treshold yang d ditetapkan pemerintah. Kekuatan modal ini pula yang menjadi pendorong cepatnya penetrasi jaringan Gerindra di berbagai pelosok tanah air.
Prabowo dengan timnya juga terlihat memiliki “barang jualan” yang cukup memikat hati, yaitu ekonomi kerakyatan dan janji pertumbuhan yang ambisius, hingga 10 persen per tahun, lengkap dengan argumentasi di baliknya. Jualan ini sedikit banyak menjadi faktor penentu pencapaian lebih dari 20% suara Mega-Prabowo pada pilpres tahun ini—berdasarkan perhitungan cepat, tentunya.
Namun, ada beberapa titik lemah yang harus bakal mengganjal langkah Prabowo untuk menjadi Presiden lima tahun mendatang. Pertama, sikap arogansi. Anak bengawan ekonomi Sumitro Joyohadikusumo sangat royal menjajakan arogansinya.  Prabowo bukanlah orang yang memiliki sikap legowo. Dalam perbincangannya dengan MetroTV malam ini (8/7/09), misalnya, dia dengan arogannya berkata:  “Kalo prosesnya meragukan, agaknya berat, ya” Komentar ini mengemuka ketika presenter MetroTV bertanya apakah ia akan memberi selamat kepada SBY-Boediono.
Lihat juga misalnya, komentarnya tentang hasil hitung cepat yang menunjukkan kemenangan SBY-Bodieono. “Terserah dari mana datanya, dari Hongkong kali, lihat saja hasil akhirnya,” tukas jenderal bintang tiga ini seperti dikutip Pos Kota edisi khusus Pilpres yang terbit sore hari (8/7/09).
Kalau sikap aragon yang berlebihan ini tidak diredam, akan sulit bagi Prabowo untuk menarik simpati rakyat, dan bakal bisa dipakai sebagai senjata makan tuan oleh para lawan politiknya.
Kedua, mantan Danjen Kopassus ini memiliki kecenderungan untuk menjadi tipe pemimpin otoriter. Ciri kepemimpinan ini mungkin bisa diterapkan kalau Indonesia memiliki kondisi yang sama dengan Bolivia, misalnya, atau beberapa Negara Amerika Latin lainnya, yang sekarang berhaluan sosialis. Mengulangi apa yang pernah diterapkan oleh Soeharto pada era Orde Baru, rasanya sangat-sangat sulit di era reformasi ini.
Ketiga, diakui atau tidak, benar atau salah, Prabowo masih disangkut-sangkutkan dengan tindakan pelanggaran hak asasi manusia selama  karir militernya. Ini bakal menjadi ganjalan tersendiri.
Keempat, kecuali di militer, Prabowo tidak memiliki jejak rekam yang pantas dibanggakan. Kita tidak pernah tahu, misalnya, prestasi yang pernah dia torehkan ketika menjadi menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia (HKTI).  Masyarakat awam juga tidak pernah tahu prestasi yang pernah dia lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Memang masih ada waktu lima tahun bagi Prabowo Subianto untuk meningkatkan citra diri dan memberi bukti kongkret kepemimpinannya. Tapi patut dicatat, bila ia tidak membuat gebrakan yang berarti, bisa-bisa pengusaha yang lama bermukim di Yordania ini akan disalip oleh rising star yang lain. Ingat, politik itu kadang tidak bisa diprediksi. ***

Kemelut Palestina

Serangan Israel terhadap Jalur Gaza yang dikuasai Hamas telah menewaskan tiga ratus orang lebih dan ratusan bahkan mungkin ribuan lainnya luka-luka. Serangan selama tiga hari berturut-turut ini telah meluluhlantakan sebagain Jalur Gaza, khususnya yang selama ini diduga sebagai markas kaum Hamas.

Beragam kecaman bermunculan dari berbagai belahan dunia, mulai dari sekadar pernyataan hingga tindakan turun ke jalan. Bahkan ada sebagian kalangan yang bertekad untuk menurunkan laskar jihadnya berperang melawan Israel di Palestina.

Saya bukanlah pendukung zionisme Israel, tapi bukan juga pendukung Hamas yang dalam berbagai kesempatmeran mengharamkan adanya negara Israel di bumi Palestina. Saya selalu berpikir bahwa kaum Palestina dan Israel, kaum Islam dan Yahudi (serta Nasrani) bisa hidup berdampingan di bumi yang melahirkan tiga agama besar dunia ini.

Kalau kita rajin membaca kisah-kisah humanistik di balik peperangan kaum Palestina dan Israel, sebenarnya, kita bisa menarik benang merah kalau perdamaian itu bisa dicapai. Masalahnya adalah apakah para pihak yang bertikai dan terlibat di dalam pertikaian itu, baik langsung maupun tidak langsung,  mau melakukannya atau tidak?

Sejarah telah membuktikan, kekerasan cenderung akan berbalas kekerasan. Adalah tidak adil ketika Israel melakukan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza, misalnya, kita ramai-ramai mengecamnya, tapi ketika kaum Hamas membombardir Israel dengan roket apakah kita mengecamnya, alih-alih menyebut mereka jihad? Sikap membela Hamas secara membabi-buta sudah bisa dipastikan tidak akan pernah bisa menyelesaikan konflik di Palestina. Bahkan kalau pun jutaan sukarelawan diterjunkan ke sana.

Menurut saya, dialog damai merupakan satu-satunya jalan. Dialog yang dilandasi keinginan untuk hidup berdampingan tanpa merasa bakal adanya ancaman terhadap eksistensi masing-masing. Gagasan Peta Jalur Damai yang digagas beberapa negara beberapa waktu lalu, sepertinya sudah saatnya untuk kembali masuk meja perundingan.

Tak dapat dipungkiri, peranan Amerika Serikat sangat besar untuk menyuksesPeta Jalur Damai ini. Tapi, jangan pula dilupakan, negara-negara Timur Tengah, sebenarnya, memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Bila semua negara Timur Tengah bersatu-padu menekan AS untuk menekan Israel, saya yakin, perdamaian di Palestina bakal bisa diwujudkan. Jadi pada akhirnya kembali ke negara-negara Islam itu sendiri, apakah mau  satu suara menekan AS atau lebih mementingkan keselamatan diri sendiri? ***

Kemacetan dan Jam Sekolah

Tidak bisa dipungkuri, masalah kemacetan di Jakarta memang sudah akut, tapi keputusan pemerintah DKI Jakarta untuk memajukan jam belajar sekolah dari jam 07.00 WIB menjadi 06.30 WIB benar-benar susah diterima akal sehat. Mereka bisa saja mengatakan keputusan ini didasarkan kepada survei yang konon bisa mengurangi kemacetan hingga 14%, tapi apakah mereka berpikir tentang efek psikologis terhadap anak?

Bayangkan untuk masuk sekolah 06.30, sebagian dari mereka mau nggak mau sudah harus bangun jam 5 subuh atau malah demi dini lagi.  Pada akhirnya, anak-anak malang ini mau tidak mau sarapan di jalan dan sesampai di sekolah mereka masih merasa ngantuk. Alhasil, pelajaran pun tidak bisa diserap dengan baik.

Selain berpengaruh kepada anak, tentunya ini juga berpengaruh kepada orang tua. Tentunya tidak semua keluarga punya pembantu. Dengan demikian, urusan mempersiapkan keberangkatan anak ke sekolah menjadi urusan orang tua.  Bayangkan, waktu istirahat orang tua masih harus disunat lagi hanya karena kebijakan pemprov yang baru ini.

Menurut saya, daripada memajukan jam sekolah, saya lebih memilih jam sekolah dimundurkan. Bukankah lebih baik bila jam berangkat anak ke sekolah sama dengan jam berangkat orang tua pergi bekerja? Pertama, waktu sarapan bersama antara anak dan orang tua bisa bersamaan. Ini tentunya akan memiliki dampak psikologis yang besar bagi pertumbuhan anak dan kualitas komunikasi orang tua dan anak. Tak dapat dipungkiri, kehidupan kota besar menjadikan waktu bertemu orang tua dan anak kian sedikit. Makan bersama malam hari, misalnya, merupakan hal yang sangat jarang bisa terjadi. Malah, bisa jadi, ketika orang tua sampai ke rumah, anak-anak sudah terlelap tidur.

Kedua, waktu bersama dalam perjalanan ke sekolah, juga bisa dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas komunikasi. Setidaknya bisa bertanya tentang perkembangan sekolah si anak dan hal-hal pribadi lainnya.

Ketiga, bila waktu berangkat anak dan orang tua bersamaan, ini tentunya, sedikit banyak akan menghemat konsumsi energi dan mengurangi polusi.

Lebih dari pada itu, sudah saatnya Pemprov DKI Jakarta untuk selalu melakukan kajian komprehensif ketika akan mengeluarkan sebuah kebijakan. Melihat persoalan secara parsial, selalu akan menghasilkan kebijakan tambal sulam yang tidak efektif. ***

Twilight

Ada dua kemungkinan bila novel diangkat ke layar lebar: film akan lebih baik dari novelnya atau sebaliknya. Sayangnya, dalam banyak kesempatan, yang terjadi adalah kemungkinan yang terakhir. Ini pulalah yang saya alami ketika menonton Twilight di Premiere Studio kemarin. Film ini jauh dari harapan saya. Di antara semua tokohnya, menurut saya, hanya Bella yang pas. Selebihnya terasa asing. Bahkan sampai diperlukan make up yang berlebihan untuk membuat wajah mereka memutih, yang sayangnya, bisa keliatan jelas, bagian tubuh yang lain beda warna.

Lihat pula misalnya tokoh Edward Cullen, yang tampangnya lebih terlihat sebagai gay daripada cowok macho yang bisa memikat hati perempuan. Seorang teman saya hanya merasa takjub dengan mata emasnya. Selebihnya, dia sepaham dengan saya, kalau si Edward itu tampangnya keliatan gay banget.

Catatan lain adalah soal special effect yang sangat standar untuk ukuran Hollywood. Saya jadi teringat kegagalan Ang Lee ketika membesut Hulk. Lompatan dan lari kencang para vampir itu tampak sangat kartun. Masih terasa jauh lebih ketika menonton film-film kolosal produksi Hong Kong.

Satu hal yang menarik minat saya untuk menuntaskan novel Twilight dan lanjutannya adalah cita rasa bahasanya yang memikat, percakapan batin Bella yang mampu mengaduk-aduk perasaan. “Feel” inilah yang tidak bisa saya dapatkan ketika menonton filmnya. Tidak terlihat adanya gejolak dan sarkasme seperti terbaca dalam novelnya.

Dua orang teman perempuan yang menonton bareng saya mengatakan film ini bagus dan malah kalo harus menonton lagi, mereka mau saja. Ya, bila Anda belum menonton novelnya, mungkin film ini bagus adanya, tapi rasanya tidak bila Anda seperti saya, yang keburu sudah kepincut dengan versi novelnya. ***

Facebook Addict?

Selasa minggu lalu, saya coba mengakses account saya di Facebook melalui ponsel. Ternyata, loading time-nya cukup cepat dengan adanya versi mobile. Sejak itu, setiap kali keluar kantor mau ketemu klien atau lagi nongkrong sama teman, saya selalu menyempatkan diri untuk mengakses account Facebook saya.

Saya baru tersadar “Inbox” saya telah dipenuhi ratusan pesan, tanpa pernah saya baca satu pun. Beberapa teman ternyata memberi selamat ulang tahun bulan September lalu melalui pesan di “Wall”.  Permintaan teman baru udah ada puluhan. Bah!

Sekarang, saya sedang mencoba menjalin cinta baru dengan FB. Tiap hari selalu saya akses, bahkan bisa sepuluh kali sehari. Hasilnya? Ada kenikmatan tersendiri, terutama ketika mengomentari status teman-teman FB. Saya juga mencoba untuk melihat lebih jauh fitur-fitur yang ditawarkan di dalamnya.  Ada satu yang menarik perhatian baru-baru ini, yaitu “Phonebook”. Bila seorang teman FB mencantumkan nomor telpon di profil dirinya, otomatis nomor telepon tersebut aka nmasuk phonebook personal kita. Sangat bermanfaat bukan?  Ya, ada aja teman yang iseng, yang tidak mengisi nomor telpon tidak sebagaimana mestinya, tapi sejauh ini 80% nomor telpon yang ada valid adanya.

Sayangnya, ada satu yang harus menjadi korban. Beberapa buku yang sudah seharusnya selesai saya baca menjadi terlantar. Termasuk satu buku yang tertinggal yang mobil teman dan harus saya relakan dibaca tuntas dulu olehnya.

Mungkin sudah saatnya saya membatasi waktu akses FB.  Karena cinta saya masih lebih besar kepada buku dari pada FB. Hidup toh pada akhirnya harus memilih bukan? ***

Soeharto, Guru Bangsa?

Kebetulan minggu lalu, saya akhirnya melihat juga iklan kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kontroversial itu. Yang pertama kali terekam di benak saya, bukannya apakah iklan itu menyesatkan atau tidak, seperti dituding kebanyakan orang. Saya malah langsung berkomentar, walalupun di dalam hati saja, “Iklannya kog jelek banget ya. Nggak bisa lebih kreatif lagi apa?”

Masih di minggu lalu, saya sempat menonton perdebatan antara Sekjen PKS dengan beberapa pengamat di salah satu televisi swasta tentang layak tidaknya Soeharto mendapat kehormatan sebagai Guru Bangsa.

Sedari dulu saya anti-Suharto. Karena bagi saya, Soeharto itu sosok diktator bertameng pembangunan semu. Betapa tidak, pembangunan cenderung dihela hutang, yang ketika krisis melanda, negeri ini langsung terjerat dalam belitan hutang. Kemajuan pembangunan yang selama ini diagung-agungkan selama 30 tahun lebih pemerintahannya lenyap dalam sekejap. Belum lagi kekerasan kemanusian yang dilakukannya selama puluhan tahun. Benar-benar tidak seimbang dengan hasil yang dicapai.

Tapi, apakah dengan demikian ia tidak pantas disebut sebagai Guru Bangsa? Saya rasa terlalu terburu-buru untuk mengatakan: Tidak! Suharto, bagaimana pun telah mengajarkan bangsa ini banyak hal. Mengajarkan bagaimana melanggengkan kekuasaan secara sistematis; mengajarkan bagaimana memanipulasi sejarah untuk kepentingan pribadi; mengajarkan bagaimana menumpuk hutang tanpa harus dituntut untuk melunasinya, karena sudah keburu lengser dan hutang bukan atas nama pribadi tapi negara.

Selama puluhan tahun Suharto telah menjejalkan banyak pelajaran penting bagi bangsa ini. Dengan demikian, bukankah pantas adanya bila ia diberi gelar Guru Bangsa? ***

Secuil Catatan dari Citra Adipariwara 2008

Setelah beberapa tahun hanya sampai “pengen liat” kehebohan ajang Citra Adipariwara (Cipar), pestanya orang iklan, tahun ini akhirnya kesampaian juga. Cipar berlangsung selama lima hari di Senayan City (12-16 November).

Berdasarkan agenda yang ada, ada beberapa acara gratisan yang bisa saya ikuti. Pertama, tentunya, pameran karya-karya finalis Cipar 2008, yang dipamerkan di area lobby Senci. Kedua, “seminar” gratisan selama dua hari (12-13 November), yang waktunya di atas jam enam sore, termasuk di antaranya paparan tentang Red Camera Technology, nonton pemenang AdFest 2008, Meet The Juries dan persentasi Daun Muda Award. Dari keempat acara gratisan terakhir, hanya Daun Muda Awards yang termasuk dihadiri banyak “penggemar”, walaupun tidak membuat seluruh tempat duduk penuh. Peminat terendah jatuh pada Red Camera Technology.

Tadinya saya berharap bahwa acara-acara tersebut akan disesaki orang-orang kreatif, secara gratisan dan di luar jam kantor. Ada apa gerangan? Begitu rendahnya minat para kreatifis kita untuk menambah wawasan? Ratusan biro iklan di seantreo Jakarta dan ribuan orang kreatifisnya, masak hanya puluhan orang yang nongol? Atau sebagian besar lagi dikejar deadline? Mudah-mudahan sih karena memang mereka lagi kebanyakan proyek . :P

Bagaimana dengan pameran karya-karya para finalis? Saya sudah berusaha bolak-balik sampai dua kali, kog rasa-rasanya tidak semua kategori dipamerkan, ya? Apa karena kekurangan ruang atau gimana? Anehnya ada beberapa karya yang dipajang berulang.

Tadinya saya berharap ketiaka Malam Anugerah Cipar 2008 diselenggarakan bakal heboh. Eh, jauh panggang dari api. Tiga jam lebih acara berlangsung datar-datar saja. Serimonial tanpa kesan yang berarti. Tak ada pula hiburan untuk menghilangkan kejemuan, kecuali dance satu menitan dari para dancer setiap peralihan kategori penghargaan.

Bisa jadi, bertambahnya kategori penjurian tahun ini membuat acara pemberian penghargaan kian panjang, tapi seharusnya ada cara untuk membuat Malam Anugerah lebih menarik. Kalau tidak jangan coba-coba bilang orang kreatif deh! ***

Dimsum Terakhir dari Clara Ng

Lebih dari sebulan yang lalu, saya kebetulan ke Pacific Place. Pengin merasakan menonton di Blitz Megaplex yang ada di sana. Usai nonton, saya ingin membeli buku, kebetulan persediaan bacaan saya sudah habis. Tanya punya tanya, ternyata ada toko buku Aksara di Lantai 4 yang baru buka.

Sampai di Lantai 4 saya cukup takjub juga ketika melihat interior Aksara yang satu ini. Sungguh berbeda dengan tiga toko yang lain, Kemang, Plaza Indonesia dan Citos. Bagi saya, yang di PP lebih berasa hangat dan ngerumah (homey). Dengan hati bungah saya pun menjelajahi setiap incinya.

Puas menjelajah, saya kembali ke niat awal untuk membeli buku. Setelah timbang sana-timbang sini, saya memutuskan untuk membeli novel Dimsum Terakhir karangan Clara Ng. Apa pasal? Karena sepertinya novel ini laris manis, sebab disebut-sebut di sampul muka novel Clara Ng yang lain. Belum lagi di rak berjajar empat novelnya sekaligus.

Selain itu, di sampul belakang, novel ini juga dipuja-puji karena keberaniannya mengangkat budaya Tionghoa dengan segala kompleksitasnya. Hmm, boleh juga nih, pikir saya.

Tapi, apa yang terjadi, saudara-saudara? Setelah memaksakan diri membaca novel ini hingga hampir setengah dari jumlah total halaman, saya memutuskan untuk berhenti. Saya sama sekali tidak mendapatkan kenikmatan, tapi malah kesal sendiri membacanya: alur cerita yang datar, pilihan kata dan pengungkapan yang seadanya, kalimat-kalimat langsung yang terlalu banyak, kurangnya pendalaman cerita dan lain sebagainya merupakan beberapa di antaranya.

Hingga kini Dimsum Terakhir tergeletak begitu saja di meja ruang tengah rumah saya. Istri saya, yang biasanya suka membaca novel seperti saya pun, sepertinya enggan menyentuhnya. Padahal novel ini berkaitan dengan etnisnya. Ia malah memilih untuk membaca Empress Orchid, karya Anchee Min, yang saya beli belakangan dan sudah selesai saya baca. Saya sudah berniat akan memberikan Dimsum Terakhir ini kepada orang lain. Tapi, saya belum menemukan orang yang tepat.

Oh, iya, saking kesalnya membaca novel ini, saya menyempatkan diri menelpon teman di Aksara, menyampaikan keluhan, kog bisa-bisanya sih Aksara menjual buku seperti itu? Teman saya itu hanya tertawa menjawabnya.

Dimsum Terakhir bisa jadi akan menjadi novel pertama dan terakhir karya Clara Ng yang saya baca. Dimsum Terakhir, hingga kini, seingat saya, juga satu-satunya novel yang tidak tuntas saya baca. Mungkin saya memang bukan sasaran pembaca dia. ***

The Name Of The Rose

Sudah lama saya ingin membeli buku ini, tapi entah kenapa selalu saja tertunda. Dalam berbagai kesempatan, mata saya malah lebih tertarik kepada buku-buku lain dan akhirnya ke kasir tanpa buku karangan Umberto Eco ini. Sampai pada akhirnya, ketika jalan-jalan dengan seorang teman, saya membelinya. Itu pun karena kebetulan tidak ada buku lain di Kinokuniya kala itu yang menarik perhatian saya.

Sebelum membaca novel ini, saya belum tahu persis kandungan isinya. Saya hanya tahu, The Name of The Rose merupakan novel laris yang melambungkan nama Umberto sebagai seorang novelis sekaligus pemikir semiotik.

Lumayan terkejut juga ketika membaca kata pengantar novel terjemahan ini. O… ternyata The Name of The Rose mengangkat tema kehidupan gereja di abad 14, yang disebut-sebut sebagai Abad Kegelapan Gereja. Sungguh jauh dari bayangan saya. Belum lagi, ketika saya sudah diwanti-wanti bahwa novel ini cukup banyak mengutip isi Alkitab di sana-sini.

Tidak banyak novel yang bisa saya sebut kategori kelas berat. In The Name of The Rose merupakan salah satunya. Butuh energi untuk memahami novel ini, khususnya logika berpikir yang dipakai oleh Umberto untuk menelaah suatu masalah. Kepakarannya sebagai ahli semiotik benar-benar dia curahkan di sini. Belum lagi perbincangan seputar “aliran-aliran kepercayaan” dalam Gereja kala itu, yang sebagian besar dicap bidaah. Mana yang bidaah, mana yang tidak menjadi terasa kabur.

Terlepas dari semua perdebatan para tokoh agama tersebut, satu hal yang menjadi inti pesan novel ini, menurut saya, adalah bahwa kesalehan hidup, keinginan untuk menegakkan kebenaran, kerap kali menyeret orang untuk melakukan tindakan-tindakan terkutuk.

Bagi saya, walaupun membaca novel ini cukup melelahkan—salah satu novel yang membuat saya butuh waktu hingga seminggu untuk membacanya—tapi setidaknya, The Name of The Rose membuat saya kembali berilmiah-ria dengan semiotika. Sesuatu yang telah begitu lama menjadi barang mahal bagi saya.***

Fauzi Wibowo dan Kesehatan Gratis

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo bisa memahami langkah anak buahnya untuk menghentikan layanan gratis terhadpa penderita demam berdarah (DBD). Penghentian ini telah dilakuan sejak tanggal 23 Oktober lalu. Alasannya DB sudah tidak termasuk kejadian luar biasa (KLB) lagi.

“Saat KLB, seluruh pasien DBD di Jakarta mendapatkan layanan kesehatan gratis. Tanpa dilihat lagi apakah itu orang kaya atau miskin. Jika warga DKI dan terkena DBD, maka mendapatkan layanan gratis dengan catatan dirawat di Kelas III. Namun jika sudah tidak ada KLB lagi, maka pelayanan kesehatan itu tetap normal. Kecuali, pasien tersebut memiliki kartu SKTM atau memiliki kartu Gakin, maka akan tetap mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis.” Begitu penegasan Wibowo Sukijat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta seperti dimuat di Berita Jakarta.

Wibowo menjelaskan bahwa pencabutan layanan kesehatan gratis itu karena selama ini kebijakan tersebut tidak tepat guna. Karena banyak warga dari luar DKI Jakarta yang terkena DBD berobat ke Jakarta. “Kenapa diberlakukan normal kembali, ini untuk mencegah masuknya pasien-pasien dari luar DKI Jakarta yang berobat ke rumah sakit di Jakarta secara gratis,” katanya.

Aneh, kalau memang alasannya demikian, bukankah pasien cukup dengan menunjukkan KTP atau tanda pengenal lainnya? Bila KTP luar DKI, tinggal tolak saja. Kog malah karena warga luar DKI, mereka yang benar-benar warga DKI malah ketiban pulungnya?

Kebijakan ini juga perlu dipertanyakan karena sekarang-sekarang ini sedang musim penghujan, yang memungkinkan penduduk lebih mudah terjangkit DBD. Apakah harus ada terlebih dahulu rakyat miskin yang menjadi martir agar pemerintah kembali menggratiskan layanan terhadap pasien DBD?

Kita tidak bisa menutup mata bahwa bukan perkara mudah bagi penduduk untuk mendapatkan kartu SKTM atau kartu Gakin. Birokrasi kita belum memihak kepada rakyat miskin, tapi kepada mereka yang memiliki modal.

Menurut saya, sudah saatnya Pemprov DKI melakukan kebijakan kesehatan gratis tanpa kecuali terhadap warganya, tentunya dengan aturan main yang cukup jelas. Misalnya, hanya berlaku untuk Kelas III, seperti yang selama ini diterima warga yang memiliki kartu Gakin; hanya berlaku di rumah-rumah sakit yang telah ditetapkan; kesehatan gratis hanya untuk penyakit-penyakit tertentu.

Apakah Pemprov DKI punya dana untuk melaksanakan. Saya yakin punya. Ini cuman masalah skala prioratis dan bagaimana supaya kebocoran anggaran ditekan serendah mungkin. Tinggal sekarang apakah ada political will terhadapnya atau tidak. ***