Kalau kita berkaca kepada hasil perhitungan cepat yang dilakukan lembaga-lembaga survei, pasangan SBY-Budiono sudah dapat dipastikan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2009-2014, hanya dalam satu putaran.
Dari dua kandidat capres-wapres yang tersisa, tampaknya tinggal Prabowo Subianto yang punya kesempatan untuk maju kembali ke pilpres lima tahun mendatang. Megawati Soekarno Putri, misalnya, sudah dua kali kalah dalam pilpres. Kalau Mega masih berambis untuk ketiga kalinya, sama saja muka tembok namanya. Hal yang sama juga berlaku untuk Wiranto, yang sudah dua kali ikut pilpres, baik sebagai capres maupun cawapres. Bagaimana dengan Kalla? Saudagar yang satu ini sudah terlalu sepuh untuk ikut pilpres lima tahun mendatang, sudah menginjak angka tujuh.
Secara kasat mata, peluang Prabowo cukup terbuka lebar. Dia memiliki sumber daya modal yang jauh dari cukup untuk membiayai ambisi politiknya, seperti sudah terlihat pada pemilu tahun ini. Sumber daya yang mampu mengkerek perolehan Partai Gerindra melebihi angka treshold yang d ditetapkan pemerintah. Kekuatan modal ini pula yang menjadi pendorong cepatnya penetrasi jaringan Gerindra di berbagai pelosok tanah air.
Prabowo dengan timnya juga terlihat memiliki “barang jualan” yang cukup memikat hati, yaitu ekonomi kerakyatan dan janji pertumbuhan yang ambisius, hingga 10 persen per tahun, lengkap dengan argumentasi di baliknya. Jualan ini sedikit banyak menjadi faktor penentu pencapaian lebih dari 20% suara Mega-Prabowo pada pilpres tahun ini—berdasarkan perhitungan cepat, tentunya.
Namun, ada beberapa titik lemah yang harus bakal mengganjal langkah Prabowo untuk menjadi Presiden lima tahun mendatang. Pertama, sikap arogansi. Anak bengawan ekonomi Sumitro Joyohadikusumo sangat royal menjajakan arogansinya. Prabowo bukanlah orang yang memiliki sikap legowo. Dalam perbincangannya dengan MetroTV malam ini (8/7/09), misalnya, dia dengan arogannya berkata: “Kalo prosesnya meragukan, agaknya berat, ya” Komentar ini mengemuka ketika presenter MetroTV bertanya apakah ia akan memberi selamat kepada SBY-Boediono.
Lihat juga misalnya, komentarnya tentang hasil hitung cepat yang menunjukkan kemenangan SBY-Bodieono. “Terserah dari mana datanya, dari Hongkong kali, lihat saja hasil akhirnya,” tukas jenderal bintang tiga ini seperti dikutip Pos Kota edisi khusus Pilpres yang terbit sore hari (8/7/09).
Kalau sikap aragon yang berlebihan ini tidak diredam, akan sulit bagi Prabowo untuk menarik simpati rakyat, dan bakal bisa dipakai sebagai senjata makan tuan oleh para lawan politiknya.
Kedua, mantan Danjen Kopassus ini memiliki kecenderungan untuk menjadi tipe pemimpin otoriter. Ciri kepemimpinan ini mungkin bisa diterapkan kalau Indonesia memiliki kondisi yang sama dengan Bolivia, misalnya, atau beberapa Negara Amerika Latin lainnya, yang sekarang berhaluan sosialis. Mengulangi apa yang pernah diterapkan oleh Soeharto pada era Orde Baru, rasanya sangat-sangat sulit di era reformasi ini.
Ketiga, diakui atau tidak, benar atau salah, Prabowo masih disangkut-sangkutkan dengan tindakan pelanggaran hak asasi manusia selama karir militernya. Ini bakal menjadi ganjalan tersendiri.
Keempat, kecuali di militer, Prabowo tidak memiliki jejak rekam yang pantas dibanggakan. Kita tidak pernah tahu, misalnya, prestasi yang pernah dia torehkan ketika menjadi menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia (HKTI). Masyarakat awam juga tidak pernah tahu prestasi yang pernah dia lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Memang masih ada waktu lima tahun bagi Prabowo Subianto untuk meningkatkan citra diri dan memberi bukti kongkret kepemimpinannya. Tapi patut dicatat, bila ia tidak membuat gebrakan yang berarti, bisa-bisa pengusaha yang lama bermukim di Yordania ini akan disalip oleh rising star yang lain. Ingat, politik itu kadang tidak bisa diprediksi. ***
Filed under: Berpolitik | Tagged: pemilu 2014, prabowo subianto, presiden | Leave a Comment »